<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Save Our Planet</title>
	<atom:link href="http://bumikita.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bumikita.wordpress.com</link>
	<description>Sudah saatnya kita memikirkan bumi ini</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Apr 2008 17:09:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bumikita.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/2997fa5b91dfceaa55905715c9ec3768?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Save Our Planet</title>
		<link>http://bumikita.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>The Day After Tomorrow</title>
		<link>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/the-day-after-tomorrow-2/</link>
		<comments>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/the-day-after-tomorrow-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 17:06:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ncepzz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Global Warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bumikita.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Renungan
Global Warming
By brokencode ⋅ November 15, 2007 ⋅  Email This Post ⋅  Print This Post ⋅ Post a comment
Tumben-tumben malam ini saya sempat nonton tivi. Menyaksikan tayangan film lepas di RCTI bertajuk “The Day after tomorrow” yang menceritakan akibat dan terjadinya kekuatiran umat manusia saat ini karena pemanasan global.
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=16&subd=bumikita&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2>Renungan</h2>
<h2>Global Warming</h2>
<p class="MsoNormal">By <a title="Posts by brokencode" href="http://www.brokencode.biz/author/brokencode/">brokencode</a> <span class="dot"><span>⋅</span></span> November 15, 2007 <span class="dot"><span>⋅</span></span> <a title="Email This Post" href="http://www.brokencode.biz/2007/11/15/global-warming/email/"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                    &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /><!--[endif]--></span></a> <a title="Email This Post" href="http://www.brokencode.biz/2007/11/15/global-warming/email/">Email This Post</a> <span class="dot"><span>⋅</span></span> <a title="Print This Post" href="http://www.brokencode.biz/2007/11/15/global-warming/print/"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /><!--[endif]--></span></a> <a title="Print This Post" href="http://www.brokencode.biz/2007/11/15/global-warming/print/">Print This Post</a> <span class="dot"><span>⋅</span></span> <a href="http://www.brokencode.biz/2007/11/15/global-warming/#comments#comments">Post a comment</a></p>
<p><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.jpg" alt="pemanasan global" hspace="10" vspace="10" width="200" height="298" align="left" /><!--[endif]-->Tumben-tumben malam ini saya sempat nonton tivi. Menyaksikan tayangan film lepas di RCTI bertajuk “The Day after tomorrow” yang menceritakan akibat dan terjadinya kekuatiran umat manusia saat ini karena pemanasan global.</p>
<p>Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi.</p>
<p>Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ? 0.18 ?C (1.33 ? 0.32 ?F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia” melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.</p>
<p>Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan temperatur permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 ?C (2.0 hingga 11.5 ?F) antara tahun 1990 dan 2100. Adanya beberapa hasil yang berbeda diakibatkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda pula dari emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang juga akibat model-model dengan sensitivitas iklim yang berbeda pula. Walaupun sebagian besar penelitian memfokuskan diri pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun jika tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.</p>
<p>Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.</p>
<p>Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca</p>
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bumikita.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bumikita.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bumikita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bumikita.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bumikita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bumikita.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bumikita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bumikita.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bumikita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bumikita.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bumikita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bumikita.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=16&subd=bumikita&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/the-day-after-tomorrow-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/182346c55893a240f0fa2630e4f9247d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ncepzz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemanasan global</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemanasan Global</title>
		<link>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/pemanasan-global-2/</link>
		<comments>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/pemanasan-global-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 17:04:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ncepzz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Global Warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bumikita.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=13&subd=bumikita&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=13&subd=bumikita&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/pemanasan-global-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/182346c55893a240f0fa2630e4f9247d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ncepzz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sadarkah Kita??????</title>
		<link>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/sadarkah-kita/</link>
		<comments>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/sadarkah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 17:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ncepzz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Global Warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bumikita.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[



Thursday,   31 May 2007 



Oleh Dr Orbanus Naharia   MSi
DISADARI atau tidak saat ini telah terjadi peningkatan suhu udara dunia   sebagai akibat pemanasan global (global warming). Pemanasan global dipicu   oleh kegiatan manusia terutama yang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar   fosil (BBF) dan kegiatan alih-guna lahan. Kegiatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=19&subd=bumikita&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><table class="MsoNormalTable" style="border:2.25pt ridge #0099cc;width:100%;" border="1" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="border:medium none;padding:11.25pt 0.75pt 0.75pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Thursday,   31 May 2007 </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:medium none;padding:11.25pt 0.75pt 0.75pt;" valign="top"><span style="font-size:10pt;color:#000000;">Oleh Dr Orbanus Naharia   MSi</p>
<p>DISADARI atau tidak saat ini telah terjadi peningkatan suhu udara dunia   sebagai akibat pemanasan global (global warming). Pemanasan global dipicu   oleh kegiatan manusia terutama yang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar   fosil (BBF) dan kegiatan alih-guna lahan. Kegiatan tersebut dapat   menghasilkan gas-gas yang makin lama makin banyak jumlahnya di atmosfer.   Gas-gas tersebut di antaranya adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan   nitrous oksida (N2O). Gas-gas tersebut memiliki sifat seperti kaca yang   meneruskan radiasi gelombang pendek atau cahaya matahari, tetapi menyerap dan   memantulkan radiasi gelombang panjang atau radiasi balik yang dipancarkan   bumi bersifat panas sehingga suhu atmosfer bumi meningkat. Berada di bumi   yang diliputi gas-gas tersebut bagaikan di dalam rumah kaca yang selalu lebih   panas dibandingkan suhu udara di luarnya. Oleh karena itu, gas-gas tersebut   dinamakan gas rumahkaca dan pengaruh yang ditimbulkan dikenal dengan nama   efek rumahkaca yang selanjutnya menimbulkan pemanasan global dan perubahan   iklim serta rentetan dampak lain di planet bumi.</p>
<p></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#000000;">Gejala alam ini telah   diteliti secara aktif mulai dekade 1980-an dan hasilnya sangat mengejutkan   para ahli lingkungan karena kengerian akan dampak yang dikhawatirkan muncul   kemudian. Sekarang, dampak itu mulai kita rasakan.<br />
Berdasarkan data peningkatan emisi gas rumahkaca di atmosfer, para ahli cuaca   internasional memperkirakan bahwa planet bumi bakal mengalami kenaikan suhu   rata-rata 3,50C memasuki abad mendatang sebagai efek akumulasi penumpukan gas   tersebut. Bencana yang muncul cukup mencemaskan antara lain kenaikan   permukaan laut akibat proses pencairan es di kutub, perubahan pola angin,   meningkatnya badai atmosferik, bertambahnya populasi dan jenis organisme   penyebab penyakit, perubahan pola curah hujan dan siklus hidrologi serta   perubahan ekosistem hutan, daratan dan ekosistem lainnya.<br />
Bukti-bukti ilmiah yang dikumpulkan para pakar lingkungan dunia selama   bertahun-tahun banyak membantu memperjelas fenomena alam ini, dan hasilnya   cukup mengejutkan seperti: di Tibet iklim mulai tidak stabil sejak Juni 1998   di mana terjadi gelombang udara panas, temperatur berkisar 250C selama 23   hari, kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kawasan Siberia, Eropa   Timur dan Amerika Utara yang terkenal dengan udara sangat dingin kini mulai   menghangat. Di Kairo pada Agustus 1998 tercatat suhu udara menembus angka   410C. Pada Agustus 1998 di Sidney Australia terjadi badai besar disertai   hujan dengan curah hujan mencapai tiga kali ukuran normal. Sementara di   Indonesia, Meksiko, Spanyol dan negara-negara lain di berbagai belahan dunia   telah terjadi musim kering berkepanjangan sebagai akibat badai tropis yang   berujung pada terbakarnya hutan jutaan hektar serta presipitasi hujan yang   tinggi mengakibatkan bencana banjir dan kegagalan panen.<br />
Simulasi model oleh pakar lingkungan Inggris memperkirakan lebih dari sejuta   species akan terancam punah pada 2050, sedangkan species yang masih bertahan   tidak akan lagi memiliki habitat yang nyaman, sementara sebagian lainnya   harus bermigrasi cukup jauh untuk memperoleh tempat hidup yang sesuai guna   mendukung kehidupannya. Simulasi ini diperkirakan cukup akurat mengingat   penelitian di California   melaporkan bahwa kupu-kupu jenis Edith Checkerspot telah mulai menghilang   seiring naiknya suhu udara di kawasan tersebut. Sementara itu populasi   penguin jenis Adeline di Antartika berkurang 33% dalam kurun 25 tahun   terakhir akibat surutnya permukaan lautan es. Tim peneliti dari Kanada   melaporkan bahwa jumlah rusa kutub Peary menurun drastis jumlahnya dari   24.000 pada 1961 menjadi hanya sekitar 1.000 pada 1997 akibat perubahan iklim   yang cukup ekstrim.<br />
Pemanasan global ternyata juga mulai memicu munculnya beberapa serangan   penyakit yang sebelumnya belum pernah ada pada daerah tertentu. Sebut saja di   kawasan pegunungan Andes Kolumbia &#8211; Amerika Tengah dengan ketinggian 1.000 &#8211;   2.195 meter dari permukaan laut dilaporkan muncul nyamuk penyebab penyakit   malaria, demam berdarah dan demam kuning. Pada 1997 di Papua, penyakit   malaria terdeteksi untuk pertama kalinya pada pemukiman di ketinggian 2.100   meter dari permukaan laut.<br />
Bencana lain adalah naiknya permukaan air laut di kawasan kepulauan Bermuda   Amerika Tengah. Dilaporkan bahwa di kawasan tersebut air laut telah meluap   melampaui batas air payau dan memusnahkan ribuan hektar hutan bakau. Di Fiji   terjadi penyusutan garis pantai sepanjang 15 cm/tahun selama 90 tahun   terakhir ini. Berdasarkan hasil penelitian IPCC (1990) permukaan air laut telah   naik sekitar 10-20 cm. Bila angka kenaikan permukaan air laut ini sampai   menyentuh kisaran angka 20-50 cm maka habitat di daerah pantai akan mengalami   gangguan bahkan musnah. Sedangkan peningkatan sebesar satu meter diprediksi   akan mampu menggusur puluhan juta orang akibat terendamnya kota dan desa di kawasan pesisir, lahan   pertanian produktif akan hancur terendam dan persediaan air tawar akan   tercemar. Bencana terakhir yang terjadi di negara kita adalah gelombang   pasang yang memporak-porandakan pemukiman warga di sepanjang pantai selatan   pulau Jawa-Bali dan Sumatera. Bencana tersebut walaupun tidak menelan korban   jiwa namun tidak sedikit kerugian yang harus diterima oleh masyarakat   pesisir.<br />
Dengan menyimak berbagai kenyataan yang telah terjadi di berbagai belahan   dunia saat ini, maka perlu dilakukan tindakan menyeluruh secara global   disertai komitmen yang kuat untuk menekan meluasnya bencana akibat pemanasan   global. Secara sederhana tindakan yang bisa dilakukan adalah pengembangan   etika hemat energi dan ramah lingkungan. Budaya penghematan energi terutama   yang terkait dengan energi yang dihasilkan dari bahan bakar fosil (BBM) harus   benar-benar dilaksanakan dengan penuh kesadaran.<br />
Pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) 2009 di Bumi Nyiur Melambai yang telah   mendapat dukungan dari berbegai pihak seperti: United Nations Environment   Programme (UNEP), UN Habitat dan Global Forum on Oceans, Coasts and Islands   serta menghadirkan tokoh-tokoh dunia sebagai keynote speakers seperti Sekjen   PBB, mantan wakil presiden AS (Al Gore), Putera mahkota Kerajaan Belanda,   mantan Menteri Lingkungan Hidup RI (Emil Salim), Presiden RI, Pangeran   Alexander, Perdana Menteri Cina, Perdana Menteri Australia, dan BJ Habibie   merupakan suatu momentum yang sangat penting dan sangat berarti, oleh sebab   itu momentum ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyatukan visi dan   komitmen pemimpin-pemimpin bangsa serta para ilmuan dan investor dari   berbagai belahan dunia bersatu menyelamatkan kehancuran bumi ini dari ancaman   pemanasan global.<br />
Di Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya 2009 diharapkan akan lahir suatu   kesepakatan global yang memuat nilai-nilai luhur sebagai bentuk kepedulian   dunia untuk menyelamatkan sumberdaya laut dari ancaman pemanasan global yang   berdampak pada perubahan iklim global terhadap laut (Impacts Of Global   Climate Change on Ocean) dan menyelamatkan keanekaragaman hayati laut (Marine   Mega Biodiversity).<br />
Bumi ini hanya satu marilah kita menjaganya dan tidak mengotorinya apalagi   menghancurkannya karena hal itu hanya akan mendatangkan bencana bagi semua   penghuninya termasuk anak cucu kita. Mari kita wariskan bumi yang bersih dan   sehat bagi generasi mendatang</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bumikita.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bumikita.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bumikita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bumikita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bumikita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bumikita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bumikita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bumikita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bumikita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bumikita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bumikita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bumikita.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=19&subd=bumikita&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/sadarkah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/182346c55893a240f0fa2630e4f9247d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ncepzz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Day After Tomorrow</title>
		<link>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/the-day-after-tomorrow/</link>
		<comments>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/the-day-after-tomorrow/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 17:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ncepzz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Global Warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bumikita.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Renungan
Global Warming
By brokencode ⋅ November 15, 2007 ⋅  Email This Post ⋅  Print This Post ⋅ Post a comment
Tumben-tumben malam ini saya sempat nonton tivi. Menyaksikan tayangan film lepas di RCTI bertajuk “The Day after tomorrow” yang menceritakan akibat dan terjadinya kekuatiran umat manusia saat ini karena pemanasan global.
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=18&subd=bumikita&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2>Renungan</h2>
<h2>Global Warming</h2>
<p class="MsoNormal">By <a title="Posts by brokencode" href="http://www.brokencode.biz/author/brokencode/">brokencode</a> <span class="dot"><span>⋅</span></span> November 15, 2007 <span class="dot"><span>⋅</span></span> <a title="Email This Post" href="http://www.brokencode.biz/2007/11/15/global-warming/email/"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                    &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /><!--[endif]--></span></a> <a title="Email This Post" href="http://www.brokencode.biz/2007/11/15/global-warming/email/">Email This Post</a> <span class="dot"><span>⋅</span></span> <a title="Print This Post" href="http://www.brokencode.biz/2007/11/15/global-warming/print/"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /><!--[endif]--></span></a> <a title="Print This Post" href="http://www.brokencode.biz/2007/11/15/global-warming/print/">Print This Post</a> <span class="dot"><span>⋅</span></span> <a href="http://www.brokencode.biz/2007/11/15/global-warming/#comments#comments">Post a comment</a></p>
<p><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.jpg" alt="pemanasan global" hspace="10" vspace="10" width="200" height="298" align="left" /><!--[endif]-->Tumben-tumben malam ini saya sempat nonton tivi. Menyaksikan tayangan film lepas di RCTI bertajuk “The Day after tomorrow” yang menceritakan akibat dan terjadinya kekuatiran umat manusia saat ini karena pemanasan global.</p>
<p>Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi.</p>
<p>Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ? 0.18 ?C (1.33 ? 0.32 ?F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia” melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.</p>
<p>Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan temperatur permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 ?C (2.0 hingga 11.5 ?F) antara tahun 1990 dan 2100. Adanya beberapa hasil yang berbeda diakibatkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda pula dari emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang juga akibat model-model dengan sensitivitas iklim yang berbeda pula. Walaupun sebagian besar penelitian memfokuskan diri pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun jika tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.</p>
<p>Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.</p>
<p>Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca</p>
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bumikita.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bumikita.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bumikita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bumikita.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bumikita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bumikita.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bumikita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bumikita.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bumikita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bumikita.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bumikita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bumikita.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=18&subd=bumikita&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/the-day-after-tomorrow/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/182346c55893a240f0fa2630e4f9247d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ncepzz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemanasan global</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Protokol Kyoto</title>
		<link>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/protokol-kyoto/</link>
		<comments>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/protokol-kyoto/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 16:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ncepzz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Global Warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bumikita.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Protokol Kyoto
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=15&subd=bumikita&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h1>Protokol Kyoto</h1>
<h3><em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.</span></em></h3>
<p class="MsoNormal">Langsung ke: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto#column-one#column-one">navigasi</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto#searchInput#searchInput">cari</a></p>
<p><strong>Protokol Kyoto</strong> adalah sebuah amandemen terhadap <a title="Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Konvensi_Rangka_Kerja_PBB_tentang_Perubahan_Iklim&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC)</span></a>, sebuah <a title="Persetujuan (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Persetujuan&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">persetujuan</span></a> internasional mengenai <a title="Pemanasan global" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global">pemanasan global</a>. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran <a title="Karbon dioksida" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon_dioksida">karbon dioksida</a> dan lima <a title="Gas rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca">gas rumah kaca</a> lainnya, atau bekerja sama dalam <a title="Perdagangan emisi (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan_emisi&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">perdagangan emisi</span></a> jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan <a title="Pemanasan global" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global">pemanasan global</a>.</p>
<p>Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun <a title="2050" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2050">2050</a>. (sumber: <em>Nature</em>, Oktober 2003)</p>
<p>Nama resmi persetujuan ini adalah <strong>Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change</strong> (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). <a title="http://www.cnn.com/SPECIALS/1997/global.warming/stories/treaty/" href="http://www.cnn.com/SPECIALS/1997/global.warming/stories/treaty/">[1]</a> Ia dinegosiasikan di <a title="Kyoto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kyoto">Kyoto</a> pada Desember <a title="1997" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1997">1997</a>, dibuka untuk penanda tanganan pada <a title="16 Maret" href="http://id.wikipedia.org/wiki/16_Maret">16 Maret</a> <a title="1998" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1998">1998</a> dan ditutup pada <a title="15 Maret" href="http://id.wikipedia.org/wiki/15_Maret">15 Maret</a> <a title="1999" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1999">1999</a>. Persetujuan ini mulai berlaku pada <a title="16 Februari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/16_Februari">16 Februari</a> <a title="2005" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2005">2005</a> setelah ratifikasi resmi yang dilakukan <a title="Rusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rusia">Rusia</a> pada <a title="18 November" href="http://id.wikipedia.org/wiki/18_November">18 November</a> <a title="2004" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2004">2004</a>.</p>
<table class="MsoNormalTable" border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:0.75pt;">
<h2>Daftar isi</h2>
<p class="MsoNormal"><span class="toctoggle">[<a href="toggleToc()">sembunyikan</a>]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto#Detil_Protokol#Detil_Protokol"><span class="tocnumber2">1</span> <span class="toctext">Detil Protokol</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto#Status_persetujuan#Status_persetujuan"><span class="tocnumber2">2</span> <span class="toctext">Status persetujuan</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto#Status_terkini_para_pemerintah#Status_terkini_para_pemerintah"><span class="tocnumber2">3</span> <span class="toctext">Status terkini para pemerintah</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto#Lihat_pula#Lihat_pula"><span class="tocnumber2">4</span> <span class="toctext">Lihat pula</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto#Pranala_luar#Pranala_luar"><span class="tocnumber2">5</span> <span class="toctext">Pranala luar</span></a></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h2>//&lt;![CDATA[<br />
if (window.showTocToggle) { var tocShowText = "tampilkan"; var tocHideText = "sembunyikan"; showTocToggle(); }<br />
//]]&gt;<br />
<a name="Detil_Protokol"></a><span class="editsection">[<a title="Detil Protokol" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Protokol_Kyoto&amp;action=edit&amp;section=1">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Detil Protokol</span></h2>
<p>Menurut rilis pers dari <a title="Program Lingkungan PBB (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Program_Lingkungan_PBB&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">Program Lingkungan PBB</span></a>:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;">&#8220;<em>Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi <a title="Gas rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca">gas rumah kaca</a> mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca &#8211; <a title="Karbon dioksida" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon_dioksida">karbon dioksida</a>, <a title="Metan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metan">metan</a>, <a title="Nitrous oxide (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nitrous_oxide&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">nitrous oxide</span></a>, <a title="Sulfur heksafluorida (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sulfur_heksafluorida&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">sulfur heksafluorida</span></a>, <a title="Hidrofluorokarbon (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hidrofluorokarbon&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">HFC</span></a>, dan <a title="Perfluorokarbon (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perfluorokarbon&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">PFC</span></a> &#8211; yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.</em>&#8221; <a title="http://216.239.59.104/custom?q=cache:-87II4XyF4sJ:stone.undp.org/maindiv/gef/newslet/June98.pdf+%22The+Kyoto+Protocol+is+a+legally+binding+agreement+under+which+industrialized+countries+will+reduce%22&amp;hl=en&amp;ie=UTF-8" href="http://216.239.59.104/custom?q=cache:-87II4XyF4sJ:stone.undp.org/maindiv/gef/newslet/June98.pdf+%22The+Kyoto+Protocol+is+a+legally+binding+agreement+under+which+industrialized+countries+will+reduce%22&amp;hl=en&amp;ie=UTF-8">[2]</a></p>
<p>Protokol Kyoto adalah <a title="Protokol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol">protokol</a> kepada <a title="Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Konvensi_Rangka_Kerja_PBB_tentang_Perubahan_Iklim&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim</span></a> (UNFCCC, yang diadopsi pada <a title="Pertemuan Bumi (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pertemuan_Bumi&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">Pertemuan Bumi</span></a> di <a title="Rio de Janeiro" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rio_de_Janeiro">Rio de Janeiro</a> pada <a title="1992" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1992">1992</a>). Semua pihak dalam UNFCCC dapat menanda tangani atau meratifikasi Protokol Kyoto, sementara pihak luar tidak diperbolehkan. Protokol Kyoto diadopsi pada sesi ketiga Konferensi Pihak Konvensi UNFCCC pada <a title="1997" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1997">1997</a> di <a title="Kyoto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kyoto">Kyoto</a>, <a title="Jepang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang">Jepang</a>.</p>
<p>Sebagian besar ketetapan Protokol Kyoto berlaku terhadap negara-negara maju yang disenaraikan dalam Annex I dalam UNFCCC.</p>
<h2><a name="Status_persetujuan"></a><span class="editsection">[<a title="Status persetujuan" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Protokol_Kyoto&amp;action=edit&amp;section=2">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Status persetujuan</span></h2>
<p>Pada saat pemberlakuan persetujuan pada Februari <a title="2005" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2005">2005</a>, ia telah diratifikasi oleh 141 negara, yang mewakili 61% dari seluruh emisi <a title="http://unfccc.int/resource/kpstats.pdf" href="http://unfccc.int/resource/kpstats.pdf">[3]</a>. Negara-negara tidak perlu menanda tangani persetujuan tersebut agar dapat meratifikasinya: penanda tanganan hanyalah aksi simbolis saja. Daftar terbaru para pihak yang telah meratifikasinya ada di sini <a title="http://www.climnet.org/EUenergy/ratification/calendar.htm" href="http://www.climnet.org/EUenergy/ratification/calendar.htm">[4]</a>.</p>
<p>Menurut syarat-syarat persetujuan protokol, ia mulai berlaku &#8220;pada hari ke-90 setelah tanggal saat di mana tidak kurang dari 55 Pihak Konvensi, termasuk Pihak-pihak dalam Annex I yang bertanggung jawab kepada setidaknya 55 persen dari seluruh emisi karbon dioksida pada 1990 dari Pihak-pihak dalam Annex I, telah memberikan alat ratifikasi mereka, penerimaan, persetujuan atau pemasukan.&#8221; Dari kedua syarat tersebut, bagian &#8220;55 pihak&#8221; dicapai pada <a title="23 Mei" href="http://id.wikipedia.org/wiki/23_Mei">23 Mei</a> <a title="2002" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2002">2002</a> ketika <a title="Islandia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islandia">Islandia</a> meratifikasi. Ratifikasi oleh <a title="Rusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rusia">Rusia</a> pada <a title="18 November" href="http://id.wikipedia.org/wiki/18_November">18 November</a> <a title="2004" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2004">2004</a> memenuhi syarat &#8220;55 persen&#8221; dan menyebabkan pesetujuan itu mulai berlaku pada <a title="16 Februari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/16_Februari">16 Februari</a> <a title="2005" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2005">2005</a>.</p>
<h2><a name="Status_terkini_para_pemerintah"></a><span class="editsection">[<a title="Status terkini para pemerintah" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Protokol_Kyoto&amp;action=edit&amp;section=3">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Status terkini para pemerintah</span></h2>
<p><em>Lihat pula: <a title="Daftar penanda tangan Protokol Kyoto (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Daftar_penanda_tangan_Protokol_Kyoto&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">Daftar penanda tangan Protokol Kyoto</span></a></em></p>
<p>Hingga 3 Desember <a title="2007" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2007">2007</a>, 174 negara telah meratifikasi protokol tersebut, termasuk <a title="Kanada" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kanada">Kanada</a>, <a title="RRT" href="http://id.wikipedia.org/wiki/RRT">Tiongkok</a>, <a title="India" href="http://id.wikipedia.org/wiki/India">India</a>, <a title="Jepang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang">Jepang</a>, <a title="Selandia Baru" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Selandia_Baru">Selandia Baru</a>, <a title="Rusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rusia">Rusia</a> dan 25 negara anggota <a title="Uni Eropa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uni_Eropa">Uni Eropa</a>, serta <a title="Rumania" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumania">Rumania</a> dan <a title="Bulgaria" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bulgaria">Bulgaria</a>.</p>
<p>Ada dua negara yang telah menanda tangani namun belum meratifikasi protokol tersebut:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat">Amerika Serikat</a> (tidak berminat untuk meratifikasi)</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a title="Kazakstan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kazakstan">Kazakstan</a></p>
<p>Pada awalnya AS, Australia, Italia, Tiongkok, India dan negara-negara berkembang telah bersatu untuk melawan strategi terhadap adanya kemungkinan Protokol Kyoto II atau persetujuan lainnya yang bersifat mengekang. <a title="http://www.onlineopinion.com.au/view.asp?article=2899" href="http://www.onlineopinion.com.au/view.asp?article=2899">[5]</a> Namun pada awal Desember 2007 Australia akhirnya ikut seta meratifikasi protokol tersebut setelah terjadi pergantian pimpinan di negera tersebut.</p>
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bumikita.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bumikita.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bumikita.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bumikita.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bumikita.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bumikita.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bumikita.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bumikita.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bumikita.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bumikita.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bumikita.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bumikita.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=15&subd=bumikita&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/protokol-kyoto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/182346c55893a240f0fa2630e4f9247d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ncepzz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemanasan Global</title>
		<link>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/pemanasan-global/</link>
		<comments>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/pemanasan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 16:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ncepzz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Global Warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bumikita.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Pemanasan global
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari


Temperatur rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990


Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980
Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=14&subd=bumikita&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h1>Pemanasan global</h1>
<h3><em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.</span></em></h3>
<p class="MsoNormal">Langsung ke: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#column-one#column-one">navigasi</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#searchInput#searchInput">cari</a></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Temperatur rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Instrumental_Temperature_Record.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                    &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.gif" border="0" alt="Temperatur rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990" width="280" height="208" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Instrumental_Temperature_Record.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" border="0" alt="" width="15" height="11" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal">Temperatur rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990</p>
<p class="MsoNormal"><a title="Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Global_Warming_Map.jpg"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.jpg" border="0" alt="Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980" width="280" height="199" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Global_Warming_Map.jpg"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" border="0" alt="" width="15" height="11" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal">Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980</p>
<p><strong>Pemanasan global</strong> adalah adanya proses peningkatan <a title="Suhu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suhu">suhu</a> rata-rata <a title="Atmosfer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Atmosfer">atmosfer</a>, <a title="Laut" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Laut">laut</a>, dan daratan <a title="Bumi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi">Bumi</a>.</p>
<p>Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °<a title="Celsius" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Celsius">C</a> (1.33 ± 0.32 °<a title="Fahrenheit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fahrenheit">F</a>) selama seratus tahun terakhir. <em><a title="Intergovernmental Panel on Climate Change" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Intergovernmental_Panel_on_Climate_Change">Intergovernmental Panel on Climate Change</a></em> (IPCC) menyimpulkan bahwa, &#8220;sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi <a title="Gas rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca">gas-gas rumah kaca</a> akibat aktivitas manusia&#8221;<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-grida7-0#cite_note-grida7-0">[1]</a></sup> melalui <a title="Efek rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Efek_rumah_kaca">efek rumah kaca</a>. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara <a title="G8" href="http://id.wikipedia.org/wiki/G8">G8</a>. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.</p>
<p>Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-grida7-0#cite_note-grida7-0">[1]</a></sup> Perbedaan angka perkiraan itu dikarenakan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-grida7-0#cite_note-grida7-0">[1]</a></sup> Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.</p>
<p>Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-1#cite_note-1">[2]</a></sup> serta perubahan jumlah dan pola <a title="Presipitasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Presipitasi">presipitasi</a>. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya <a title="Gletser" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gletser">gletser</a>, dan punahnya berbagai jenis hewan.</p>
<p>Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi <a title="Protokol Kyoto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto">Protokol Kyoto</a>, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.</p>
<table class="MsoNormalTable" border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:0.75pt;">
<h2>Daftar isi</h2>
<p class="MsoNormal"><span class="toctoggle">[<a href="toggleToc()">sembunyikan</a>]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="9" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Penyebab_pemanasan_global#Penyebab_pemanasan_global"><span class="tocnumber2">1</span> <span class="toctext">Penyebab pemanasan global</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Efek_rumah_kaca#Efek_rumah_kaca"><span class="tocnumber2">1.1</span> <span class="toctext">Efek rumah kaca</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Efek_umpan_balik#Efek_umpan_balik"><span class="tocnumber2">1.2</span> <span class="toctext">Efek umpan balik</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Variasi_Matahari#Variasi_Matahari"><span class="tocnumber2">1.3</span> <span class="toctext">Variasi Matahari</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="9" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Mengukur_pemanasan_global#Mengukur_pemanasan_global"><span class="tocnumber2">2</span> <span class="toctext">Mengukur pemanasan global</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="9" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Model_iklim#Model_iklim"><span class="tocnumber2">3</span> <span class="toctext">Model iklim</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="9" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Dampak_pemanasan_global#Dampak_pemanasan_global"><span class="tocnumber2">4</span> <span class="toctext">Dampak pemanasan global</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Cuaca#Cuaca"><span class="tocnumber2">4.1</span> <span class="toctext">Cuaca</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Tinggi_muka_laut#Tinggi_muka_laut"><span class="tocnumber2">4.2</span> <span class="toctext">Tinggi muka laut</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Pertanian#Pertanian"><span class="tocnumber2">4.3</span> <span class="toctext">Pertanian</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Hewan_dan_tumbuhan#Hewan_dan_tumbuhan"><span class="tocnumber2">4.4</span> <span class="toctext">Hewan dan tumbuhan</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Kesehatan_manusia#Kesehatan_manusia"><span class="tocnumber2">4.5</span> <span class="toctext">Kesehatan manusia</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="9" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Perdebatan_tentang_pemanasan_global#Perdebatan_tentang_pemanasan_global"><span class="tocnumber2">5</span> <span class="toctext">Perdebatan tentang pemanasan   global</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="9" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Pengendalian_pemanasan_global#Pengendalian_pemanasan_global"><span class="tocnumber2">6</span> <span class="toctext">Pengendalian pemanasan global</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Menghilangkan_karbon#Menghilangkan_karbon"><span class="tocnumber2">6.1</span> <span class="toctext">Menghilangkan karbon</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span><img src="PicExportError" alt="*" width="13" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Persetujuan_internasional#Persetujuan_internasional"><span class="tocnumber2">6.2</span> <span class="toctext">Persetujuan internasional</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="9" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Lihat_pula#Lihat_pula"><span class="tocnumber2">7</span> <span class="toctext">Lihat pula</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="9" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Referensi#Referensi"><span class="tocnumber2">8</span> <span class="toctext">Referensi</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="9" height="13" /><span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Pranala_luar#Pranala_luar"><span class="tocnumber2">9</span> <span class="toctext">Pranala luar</span></a></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h2>//&lt;![CDATA[<br />
if (window.showTocToggle) { var tocShowText = "tampilkan"; var tocHideText = "sembunyikan"; showTocToggle(); }<br />
//]]&gt;<br />
<a name="Penyebab_pemanasan_global"></a><span class="editsection">[<a title="Penyebab pemanasan global" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=1">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Penyebab pemanasan global</span></h2>
<h3><a name="Efek_rumah_kaca"></a><span class="editsection">[<a title="Efek rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=2">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Efek rumah kaca</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><a title="!" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Crystal_xmag.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.gif" border="0" alt="!" width="20" height="20" /></span><!--[endif]--></span></a><em>Artikel utama untuk bagian ini adalah: <a title="Efek rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Efek_rumah_kaca">Efek rumah kaca</a></em></p>
<p>Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk <a title="Cahaya tampak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cahaya_tampak">cahaya tampak</a>. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi <a title="Infra merah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Infra_merah">infra merah</a> gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah <a title="Gas rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca">gas rumah kaca</a> antara lain <a title="Uap air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uap_air">uap air</a>, <a title="Karbondioksida" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbondioksida">karbondioksida</a>, dan <a title="Metana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metana">metana</a> yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan <a title="Bumi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi">bumi</a> terus meningkat.</p>
<p>Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam <a title="Rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_kaca">rumah kaca</a>. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.</p>
<p>Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dengan efek rumah kaca<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-2#cite_note-2">[3]</a></sup> (tanpanya suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.</p>
<h3><a name="Efek_umpan_balik"></a><span class="editsection">[<a title="Efek umpan balik" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=3">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Efek umpan balik</span></h3>
<p>Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan <a title="Air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Air">air</a>. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO<sub>2</sub>, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang <a title="Penguapan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penguapan">menguap</a> ke atmosfer. Karena <a title="Uap air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uap_air">uap air</a> sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO<sub>2</sub> sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, <a title="Kelembaban relatif" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelembaban_relatif">kelembaban relatif</a> udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-soden1-3#cite_note-soden1-3">[4]</a></sup> Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO<sub>2</sub> memiliki usia yang panjang di atmosfer.</p>
<p>Efek-efek umpan balik karena pengaruh <a title="Awan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Awan">awan</a> sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-soden1-3#cite_note-soden1-3">[4]</a></sup></p>
<p>Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (<em><a title="Albedo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Albedo">albedo</a>)</em> oleh es.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-4#cite_note-4">[5]</a></sup> Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.</p>
<p>Umpan balik positif akibat terlepasnya CO<sub>2</sub> dan CH<sub>4</sub> dari melunaknya tanah beku <em>(<a title="Permafrost (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Permafrost&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">permafrost</span></a>)</em> adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH<sub>4</sub> yang juga menimbulkan umpan balik positif.</p>
<p>Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan <a title="Diatom" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Diatom">diatom</a> daripada <a title="Fitoplankton" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fitoplankton">fitoplankton</a> yang merupakan penyerap karbon yang rendah.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-5#cite_note-5">[6]</a></sup></p>
<h3><a name="Variasi_Matahari"></a><span class="editsection">[<a title="Variasi Matahari" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=4">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Variasi Matahari</span></h3>
<p class="MsoNormal"><a title="Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir." href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Solar-cycle-data.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image009.gif" border="0" alt="Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir." width="280" height="186" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Solar-cycle-data.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" border="0" alt="" width="15" height="11" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal">Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><a title="!" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Crystal_xmag.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.gif" border="0" alt="!" width="20" height="20" /></span><!--[endif]--></span></a><em>Artikel utama untuk bagian ini adalah: <a title="Variasi Matahari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Variasi_Matahari">Variasi Matahari</a></em></p>
<p>Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-6#cite_note-6">[7]</a></sup> Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan <a title="Stratosfer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stratosfer">stratosfer</a> sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-7#cite_note-7">[8]</a></sup> yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan <a title="Lapisan ozon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lapisan_ozon">lapisan ozon</a> juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-8#cite_note-8">[9]</a><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-9#cite_note-9">[10]</a></sup></p>
<p>Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari <em>Duke University</em> mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-10#cite_note-10">[11]</a></sup> Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-11#cite_note-11">[12]</a></sup> Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.</p>
<p>Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari <a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat">Amerika Serikat</a>, <a title="Jerman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman">Jerman</a> dan <a title="Swiss" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Swiss">Swiss</a> menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat &#8220;keterangan&#8221; dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat &#8220;keterangannya&#8221; selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-12#cite_note-12">[13]</a><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-13#cite_note-13">[14]</a></sup> Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-14#cite_note-14">[15]</a></sup></p>
<h2><a name="Mengukur_pemanasan_global"></a><span class="editsection">[<a title="Mengukur pemanasan global" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=5">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Mengukur pemanasan global</span></h2>
<p class="MsoNormal"><a title="Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mauna_Loa_Carbon_Dioxide.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image011.gif" border="0" alt="Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa" width="280" height="191" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mauna_Loa_Carbon_Dioxide.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" border="0" alt="" width="15" height="11" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal">Hasil pengukuran konsentrasi CO<sub>2</sub> di Mauna Loa</p>
<p>Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. <a title="Hipotesis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis">Hipotesis</a> ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung <a title="Mauna Loa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mauna_Loa">Mauna Loa</a> di <a title="Hawai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hawai">Hawai</a>. Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.</p>
<p>Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa <a title="Iklim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Iklim">iklim</a> global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan (<em>trend</em>) yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya. <a title="Stasiun cuaca (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Stasiun_cuaca&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">Stasiun cuaca</span></a> pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari <a title="Satelit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Satelit">satelit</a>. Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas.</p>
<p>Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, <em><a title="Intergovernmental Panel on Climate Change" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Intergovernmental_Panel_on_Climate_Change">Intergovernmental Panel on Climate Change</a> (IPCC)</em> menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktifitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.</p>
<p>IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. Karbondioksida akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali. Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan masa sebelum era industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi masalah ini dengan resiko populasi yang sangat besar.</p>
<h2><a name="Model_iklim"></a><span class="editsection">[<a title="Model iklim" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=6">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Model iklim</span></h2>
<p class="MsoNormal"><a title="Prakiraan peningkatan temperature terhadap beberapa skenario kestabilan (pita berwarna) berdasarkan Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Garis hitam menunjukkan prakiraan terbaik; garis merah dan biru menunjukkan batas-batas kemungkinan yang dapat terjadi." href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:IPCC_AR4_WGIII_GHG_concentration_stabilization_levels.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image013.gif" border="0" alt="Prakiraan peningkatan temperature terhadap beberapa skenario kestabilan (pita berwarna) berdasarkan Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Garis hitam menunjukkan prakiraan terbaik; garis merah dan biru menunjukkan batas-batas kemungkinan yang dapat terjadi." width="280" height="143" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:IPCC_AR4_WGIII_GHG_concentration_stabilization_levels.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" border="0" alt="" width="15" height="11" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal">Prakiraan peningkatan temperature terhadap beberapa skenario kestabilan (pita berwarna) berdasarkan Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Garis hitam menunjukkan prakiraan terbaik; garis merah dan biru menunjukkan batas-batas kemungkinan yang dapat terjadi.</p>
<p class="MsoNormal"><a title="Perhitungan pemanasan global pada tahun 2001 dari beberapa model iklim berdasarkan scenario SRES A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi emisi." href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Global_Warming_Predictions.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image015.gif" border="0" alt="Perhitungan pemanasan global pada tahun 2001 dari beberapa model iklim berdasarkan scenario SRES A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi emisi." width="280" height="200" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Global_Warming_Predictions.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" border="0" alt="" width="15" height="11" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal">Perhitungan pemanasan global pada tahun 2001 dari beberapa <a title="Model iklim global (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Model_iklim_global&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">model iklim</span></a> berdasarkan scenario <a title="SRES (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=SRES&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">SRES</span></a> A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi emisi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><a title="!" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Crystal_xmag.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.gif" border="0" alt="!" width="20" height="20" /></span><!--[endif]--></span></a><em>Artikel utama untuk bagian ini adalah: <a title="Model iklim global (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Model_iklim_global&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">Model iklim global</span></a></em></p>
<p>Para ilmuan telah mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model computer berdasarkan prinsip-prinsip dasar dinamikan fluida, transfer radiasi, dan proses-proses lainya, dengan beberapa penyederhanaan disebabkan keterbatasan kemampuan komputer. Model-model ini memprediksikan bahwa penambahan gas-gas rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-15#cite_note-15">[16]</a></sup> Walaupun digunakan asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi gas rumah kaca di masa depan, <a title="Sensitivitas iklim (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sensitivitas_iklim&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">sensitivitas iklimnya</span></a> masih akan berada pada suatu rentang tertentu.</p>
<p>Dengan memasukkan unsur-unsur ketidakpastian terhadap konsentrasi gas rumah kaca dan pemodelan iklim, IPCC memperkirakan pemanasan sekitar 1.1 °C hingga 6.4 °C (2.0 °F hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-grida7-0#cite_note-grida7-0">[1]</a></sup> Model-model iklim juga digunakan untuk menyelidiki penyebab-penyebab perubahan iklim yang terjadi saat ini dengan membandingkan perubahan yang teramati dengan hasil prediksi model terhadap berbagai penyebab, baik alami maupun aktivitas manusia.</p>
<p>Model iklim saat ini menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan temperature global hasil pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi tidak mensimulasi semua aspek dari iklim.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-16#cite_note-16">[17]</a></sup> Model-model ini tidak secara pasti menyatakan bahwa pemanasan yang terjadi antara tahun 1910 hingga 1945 disebabkan oleh proses alami atau aktivitas manusia; akan tetapi; mereka menunjukkan bahwa pemanasan sejak tahun 1975 didominasi oleh emisi gas-gas yang dihasilkan manusia.</p>
<p>Sebagian besar model-model iklim, ketika menghitung iklim di masa depan, dilakukan berdasarkan skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari Laporan Khusus terhadap Skenario Emisi (<em><a title="Special Report on Emissions Scenarios (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Special_Report_on_Emissions_Scenarios&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">Special Report on Emissions Scenarios</span></a></em> / SRES) IPCC. Yang jarang dilakukan, model menghitung dengan menambahkan simulasi terhadap <a title="Siklus karbon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_karbon">siklus karbon</a>; yang biasanya menghasilkan umpan balik yang positif, walaupun responnya masih belum pasti (untuk skenario A2 SRES, respon bervariasi antara penambahan 20 dan 200 ppm CO<sub>2</sub>). Beberapa studi-studi juga menunjukkan beberapa umpan balik positif.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-17#cite_note-17">[18]</a><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-18#cite_note-18">[19]</a><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-19#cite_note-19">[20]</a></sup></p>
<p>Pengaruh awan juga merupakan salah satu sumber yang menimbulkan ketidakpastian terhadap model-model yang dihasilkan saat ini, walaupun sekarang telah ada kemajuan dalam menyelesaikan masalah ini. <sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-20#cite_note-20">[21]</a></sup> Saat ini juga terjadi diskusi-diskusi yang masih berlanjut mengenai apakah model-model iklim mengesampingkan efek-efek umpan balik dan tak langsung dari <a title="Variasi Matahari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Variasi_Matahari">variasi Matahari</a>.</p>
<h2><a name="Dampak_pemanasan_global"></a><span class="editsection">[<a title="Dampak pemanasan global" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=7">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Dampak pemanasan global</span></h2>
<p>Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap <a title="Cuaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cuaca">cuaca</a>, tinggi permukaan air laut, <a title="Pantai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pantai">pantai</a>, <a title="Pertanian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian">pertanian</a>, kehidupan hewan liar dan kesehatan <a title="Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia">manusia</a>.</p>
<h3><a name="Cuaca"></a><span class="editsection">[<a title="Cuaca" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=8">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Cuaca</span></h3>
<p>Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (<em>Northern Hemisphere</em>) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada <a title="Musim dingin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musim_dingin">musim dingin</a> dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.</p>
<p>Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah <a title="Kelembaban" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelembaban">kelembaban</a> tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena <a title="Uap air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uap_air">uap air</a> merupakan <a title="Gas rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca">gas rumah kaca</a>, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek <a title="Insulasi (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Insulasi&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">insulasi</span></a> pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat <a title="Siklus air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_air">siklus air</a>). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini)<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-Encarta-21#cite_note-Encarta-21">[22]</a></sup>. <a title="Badai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Badai">Badai</a> akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (<em>hurricane</em>) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.</p>
<h3><a name="Tinggi_muka_laut"></a><span class="editsection">[<a title="Tinggi muka laut" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=9">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Tinggi muka laut</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><a title="!" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Crystal_xmag.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.gif" border="0" alt="!" width="20" height="20" /></span><!--[endif]--></span></a><em>Artikel utama untuk bagian ini adalah: <a title="Kenaikan permukaan laut" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kenaikan_permukaan_laut">Kenaikan permukaan laut</a></em></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi." href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Recent_Sea_Level_Rise.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image017.jpg" border="0" alt="Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi." width="250" height="174" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Recent_Sea_Level_Rise.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" border="0" alt="" width="15" height="11" /></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal">Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.</p>
<p>Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar <a title="Greenland" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Greenland">Greenland</a>, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 &#8211; 25 cm (4 &#8211; 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 &#8211; 88 cm (4 &#8211; 35 inchi) pada abad ke-21.</p>
<p>Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah <a title="Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda">Belanda</a>, 17,5 persen daerah <a title="Bangladesh" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangladesh">Bangladesh</a>, dan banyak pulau-pulau. <a title="Erosi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Erosi">Erosi</a> dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.</p>
<p>Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di <a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat">Amerika Serikat</a>. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari <a title="Florida Everglades (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Florida_Everglades&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">Florida Everglades</span></a>.</p>
<h3><a name="Pertanian"></a><span class="editsection">[<a title="Pertanian" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=10">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Pertanian</span></h3>
<p>Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan <a title="Kanada" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kanada">Kanada</a>, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian <a title="Afrika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika">Afrika</a> mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika <em>snowpack</em> (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.</p>
<h3><a name="Hewan_dan_tumbuhan"></a><span class="editsection">[<a title="Hewan dan tumbuhan" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=11">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Hewan dan tumbuhan</span></h3>
<p>Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena <a title="Habitat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Habitat">habitat</a> lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.</p>
<h3><a name="Kesehatan_manusia"></a><span class="editsection">[<a title="Kesehatan manusia" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=12">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Kesehatan manusia</span></h3>
<p>Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan <a title="Nyamuk" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nyamuk">nyamuk</a> dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa <a title="Parasit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Parasit">parasit</a> <a title="Malaria" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malaria">malaria</a>; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti <a title="Demam dengue" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Demam_dengue">demam dengue</a>, <a title="Demam kuning (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Demam_kuning&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">demam kuning</span></a>, dan <em><a title="Encephalitis (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Encephalitis&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">encephalitis</span></a></em>. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden <a title="Alergi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alergi">alergi</a> dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, <a title="Spora" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Spora">spora</a> <em><a title="Mold (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mold&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">mold</span></a></em> dan <a title="Serbuk sari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Serbuk_sari">serbuk sari</a>.</p>
<h2><a name="Perdebatan_tentang_pemanasan_global"></a><span class="editsection">[<a title="Perdebatan tentang pemanasan global" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=13">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Perdebatan tentang pemanasan global</span></h2>
<p>Tidak semua ilmuan setuju tentang keadaan dan akibat dari pemanasan global. Beberapa pengamat masih mempertanyakan apakah temperatur benar-benar meningkat. Yang lainnya mengakui perubahan yang telah terjadi tetapi tetap membantah bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi tentang keadaan di masa depan. Kritikan seperti ini juga dapat membantah bukti-bukti yang menunjukkan kontribusi manusia terhadap pemanasan global dengan berargumen bahwa siklus alami dapat juga meningkatkan temperatur. Mereka juga menunjukkan fakta-fakta bahwa pemanasan berkelanjutan dapat menguntungkan di beberapa daerah.</p>
<p>Para ilmuan yang mempertanyakan pemanasan global cenderung menunjukkan tiga perbedaan yang masih dipertanyakan antara prediksi model pemanasan global dengan perilaku sebenarnya yang terjadi pada iklim. Pertama, pemanasan cenderung berhenti selama tiga dekade pada pertengahan abad ke-20; bahkan ada masa pendinginan sebelum naik kembali pada tahun 1970-an. Kedua, jumlah total pemanasan selama abad ke-20 hanya separuh dari yang diprediksi oleh model. Ketiga, <a title="Troposfer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Troposfer">troposfer</a>, lapisan atmosfer terendah, tidak memanas secepat prediksi model. Akan tetapi, pendukung adanya pemanasan global yakin dapat menjawab dua dari tiga pertanyaan tersebut.</p>
<p>Kurangnya pemanasan pada pertengahan abad disebabkan oleh besarnya <a title="Polusi udara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Polusi_udara">polusi udara</a> yang menyebarkan partikulat-partikulat, terutama <a title="Sulfat (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sulfat&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">sulfat</span></a>, ke atmosfer. Partikulat ini, juga dikenal sebagai <a title="Aerosol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aerosol">aerosol</a>, memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa luar. Pemanasan berkelanjutan akhirnya mengatasi efek ini, sebagian lagi karena adanya kontrol terhadap polusi yang menyebabkan udara menjadi lebih bersih.</p>
<p>Keadaan pemanasan global sejak 1900 yang ternyata tidak seperti yang diprediksi disebabkan penyerapan panas secara besar oleh lautan. Para ilmuan telah lama memprediksi hal ini tetapi tidak memiliki cukup data untuk membuktikannya. Pada tahun 2000, <em>U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration</em> (NOAA) memberikan hasil analisa baru tentang temperatur air yang diukur oleh para pengamat di seluruh dunia selama 50 tahun terakhir. Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan adanya kecenderungan pemanasan: temperatur laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi 0,2 derajat Celsius (0,3 derajat Fahrenheit) daripada temperatur rata-rata 50 tahun terakhir, ada sedikit perubahan tetapi cukup berarti.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-Encarta-21#cite_note-Encarta-21">[22]</a></sup></p>
<p>Pertanyaan ketiga masih membingungkan. Satelit mendeteksi lebih sedikit pemanasan di troposfer dibandingkan prediksi model. Menurut beberapa kritikus, pembacaan atmosfer tersebut benar, sedangkan pengukuran atmosfer dari permukaan Bumi tidak dapat dipercaya. Pada bulan Januari 2000, sebuah panel yang ditunjuk oleh <em>National Academy of Sciences</em> untuk membahas masalah ini mengakui bahwa pemanasan permukaan Bumi tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi, pengukuran troposfer yang lebih rendah dari prediksi model tidak dapat dijelaskan secara jelas.</p>
<h2><a name="Pengendalian_pemanasan_global"></a><span class="editsection">[<a title="Pengendalian pemanasan global" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=14">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Pengendalian pemanasan global</span></h2>
<p>Konsumsi total <a title="Bahan bakar fosil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_bakar_fosil">bahan bakar fosil</a> di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.</p>
<p>Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.</p>
<p>Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut <em>carbon sequestration</em> (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.</p>
<h3><a name="Menghilangkan_karbon"></a><span class="editsection">[<a title="Menghilangkan karbon" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=15">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Menghilangkan karbon</span></h3>
<p>Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam <a title="Pohon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pohon">pohon</a> lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam <a title="Kayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kayu">kayunya</a>. Di seluruh dunia, tingkat perambahan <a title="Hutan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan">hutan</a> telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.</p>
<p>Gas karbondioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat <em><a title="Enhanced Oil Recovery (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Enhanced_Oil_Recovery&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">Enhanced Oil Recovery</span></a></em>). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau <em>aquifer</em>. Hal ini telah dilakukan di salah satu <a title="Anjungan pengeboran lepas pantai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Anjungan_pengeboran_lepas_pantai">anjungan pengeboran lepas pantai</a> <a title="Norwegia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Norwegia">Norwegia</a>, di mana karbondioksida yang terbawa ke permukaan bersama <a title="Gas alam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_alam">gas alam</a> ditangkap dan diinjeksikan kembali ke <em>aquifer</em> sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.</p>
<p>Salah satu sumber penyumbang karbondioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak <a title="Revolusi industri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_industri">revolusi industri</a> pada abad ke-18. Pada saat itu, <a title="Batubara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batubara">batubara</a> menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh <a title="Minyak bumi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_bumi">minyak bumi</a> pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbondioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan <a title="Energi terbaharui" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Energi_terbaharui">energi terbaharui</a> dan <a title="Daya nuklir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daya_nuklir">energi nuklir</a> lebih mengurangi pelepasan karbondioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepas karbondioksida sama sekali.</p>
<h3><a name="Persetujuan_internasional"></a><span class="editsection">[<a title="Persetujuan internasional" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemanasan_global&amp;action=edit&amp;section=16">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Persetujuan internasional</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><a title="!" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Crystal_xmag.png"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.gif" border="0" alt="!" width="20" height="20" /></span><!--[endif]--></span></a><em>Artikel utama untuk bagian ini adalah: <a title="Protokol Kyoto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto">Protokol Kyoto</a></em></p>
<p>Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada <em><a title="Earth Summit (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Earth_Summit&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color:#cc2200;">Earth Summit</span></a></em> di <a title="Rio de Janeiro" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rio_de_Janeiro">Rio de Janeiro</a>, <a title="Brazil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brazil">Brazil</a>, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di <a title="Jepang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang">Jepang</a>, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan <a title="Protokol Kyoto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto">Protokol Kyoto</a>.</p>
<p>Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, <a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat">Amerika Serikat</a> mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; <a title="Uni Eropa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uni_Eropa">Uni Eropa</a>, yang menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar <a title="Negara berkembang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negara_berkembang">negara berkembang</a>, tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.</p>
<p>Akan tetapi, pada tahun 2001, <a title="Presiden Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Presiden_Amerika_Serikat">Presiden Amerika Serikat</a> yang baru terpilih, <a title="George W. Bush" href="http://id.wikipedia.org/wiki/George_W._Bush">George W. Bush</a> mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan karbondioksida tersebut menelan biaya yang sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan karbondioksida ini. Kyoto Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara industri yang bertanggung jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca pada tahun 1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden <a title="Rusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rusia">Rusia</a> <a title="Vladimir Putin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Vladimir_Putin">Vladimir Putin</a> meratifikasi perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai <a title="16 Februari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/16_Februari">16 Februari</a> 2005.</p>
<p>Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang protokol ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di <a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat">Amerika Serikat</a> terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri batubara dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dollar AS, terutama disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah mengubah ke peralatan, kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien.</p>
<p>Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbondioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, <a title="Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda">Belanda</a>, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbondioksida.</p>
<p>Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang sistem di mana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut <a title="Perdagangan karbon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_karbon">perdagangan karbon</a>. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5 persen di bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi ke negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.</p>
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bumikita.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bumikita.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bumikita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bumikita.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bumikita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bumikita.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bumikita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bumikita.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bumikita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bumikita.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bumikita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bumikita.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=14&subd=bumikita&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/pemanasan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/182346c55893a240f0fa2630e4f9247d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ncepzz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Temperatur rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="PicExportError" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">*</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.gif" medium="image">
			<media:title type="html">!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image009.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.gif" medium="image">
			<media:title type="html">!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image011.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image013.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Prakiraan peningkatan temperature terhadap beberapa skenario kestabilan (pita berwarna) berdasarkan Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Garis hitam menunjukkan prakiraan terbaik; garis merah dan biru menunjukkan batas-batas kemungkinan yang dapat terjadi.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image015.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Perhitungan pemanasan global pada tahun 2001 dari beberapa model iklim berdasarkan scenario SRES A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi emisi.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.gif" medium="image">
			<media:title type="html">!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.gif" medium="image">
			<media:title type="html">!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image017.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.gif" medium="image">
			<media:title type="html">!</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Global Warming (menakutkan&#8230;.)</title>
		<link>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/global-warming-menakutkan/</link>
		<comments>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/global-warming-menakutkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 16:50:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ncepzz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Global Warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bumikita.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Global warming 

Apakah yang dimaksud dengan Efek Rumah      Kaca (ERK) dan penyebabnya?

Efek Rumah Kaca dapat divisualisasikan sebagai sebuah proses. Pada kenyataannya, di lapisan atmosfer terdapat selimut gas. Rumah kaca adalah analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Nah, panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=12&subd=bumikita&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3><span><a href="http://newsletter-aries.blogspot.com/2007/12/global-warming.html">Global warming</a> </span></h3>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apakah yang dimaksud dengan Efek Rumah      Kaca (ERK) dan penyebabnya?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Efek Rumah Kaca dapat divisualisasikan sebagai sebuah proses. Pada kenyataannya, di lapisan atmosfer terdapat selimut gas. Rumah kaca adalah analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Nah, panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang. Namun, panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan panas untuk menghangatkan rumah kaca. Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut gas di atmosfer (Gas Rumah Kaca) sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya. Maka, panas matahari yang tidak dapat dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula. Semua proses itu lah yang disebut Efek Rumah Kaca. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak dari Efek Rumah Kaca.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apakah Efek Rumah Kaca merupakan proses      alami?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Ya! Efek Rumah Kaca terjadi alami karena memungkinkan kelangsungan hidup semua makhluk di bumi. Tanpa adanya Gas Rumah Kaca, seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), atau dinitro oksida (N2O), suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih dingin. Sejak awal jaman industrialisasi, awal akhir abad ke-17, konsentrasi Gas Rumah Kaca meningkat drastis. Diperkirakan tahun 1880 temperatur rata-rata bumi meningkat 0.5 – 0.6 derajat Celcius akibat emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apa buktinya bahwa Efek Rumah Kaca itu      benar-benar terjadi ?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span>Melalui beberapa bukti berikut:<br />
- Pertama, berdasarkan ilmu fisika, beberapa gas mempunyai kemampuan untuk menahan panas. Tak ada yang patut diragukan dari pernyataan ini.<br />
- Kedua, pengukuran yang dilakukan sejak tahun 1950-an menunjukkan tingkat konsentrasi Gas Rumah Kaca meningkat secara tetap, dan peningkatan ini berhubungan dengan emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan industri dan berbagai aktivitas manusia lainnya.<br />
- Ketiga, penelitian menunjukkan udara yang terperangkap di dalam gunung es<br />
telah berusia 250 ribu tahun . Artinya:<br />
· Konsentrasi Gas Rumah Kaca di udara berbeda-beda di masa lalu dan masa kini. Perbedaan ini menunjukkan adanya perubahan temperatur<br />
· Konsentrasi Gas Rumah Kaca terbukti meningkat sejak masa praindustri.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apa sajakah yang termasuk dalam      kelompok Gas Rumah Kaca?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span>Yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca adalah karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6). Jenis GRK yang memberikan sumbangan paling besar bagi emisi gas rumah kaca adalah karbondioksida, metana, dan dinitro oksida. Sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) di sektor energi dan transport, penggundulan hutan , dan pertanian . Sementara, untuk gas rumah kaca lainnya (HFC, PFC, SF6 ) hanya menyumbang kurang dari 1% .</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Darimanakah emisi karbondioksida      dihasilkan ?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span>Sumber-sumber emisi karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara):<br />
- 36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll)<br />
- 27% dari sektor transportasi<br />
- 21% dari sektor industri<br />
- 15% dari sektor rumah tangga &amp; jasa<br />
- 1% dari sektor lain -lain.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apakah penghasil utama emisi karbondioksida?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span>Sumber utama penghasil emisi karbondioksida secara global ada 2 macam. Pertama, pembangkit listrik bertenaga batubara. Pembangkit listrik ini membuang energi 2 kali lipat dari energi yang dihasilkan. Semisal, energi yang digunakan 100 unit, sementara energi yang dihasilkan 35 unit. Maka, energi yang terbuang adalah 65 unit! Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit<br />
listrik bertenaga batubara akan mengemisikan 5,6 juta ton karbondioksida per tahun!<br />
Kedua, pembakaran kendaraan bermotor. Kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar sebanyak 7,8 liter per 100 km dan menempuh jarak 16 ribu km, maka setiap tahunnya akan mengemisikan 3 ton<br />
karbondioksida ke udara! Bayangkan jika jumlah kendaraan bermotor di Jakarta lebih dari 4 juta kendaraan! Berapa ton karbondioksida yang masuk ke atmosfer per tahun?</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apa yang dapat dilakukan untuk      mengurangi kontribusi Gas Rumah Kaca?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span>Penting diingat, emisi Gas Rumah Kaca harus dikurangi! Jadi harus dibangun sistem industri dan transportasi yang TIDAK bergantung pada bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara). Kalau perlu, TIDAK menggunakannya SAMA SEKALI! Karena Perubahan Iklim adalah masalah global, penyelesaiannya pun mesti secara internasional. Langkah pertama yang dilakukan adalah pembuatan Kerangka Konvensi untuk Perubahan Iklim (Framework Convention on Climate Change) tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brazil, yang ditandatangani oleh 167 negara. Kerangka konvensi ini mengikat secara moral semua negara-negara industri untuk menstabilkan emisi karbondioksida mereka. Sayangnya, hanya sedikit negara industri yang memenuhi target. Langkah<br />
selanjutnya berarti membuat komitmen yang mengikat secara hukum dan memperkuatnya dalam sebuah protokol. Dibuat lah Kyoto Protocol atau Protokol Kyoto. Tujuannya: mengharuskan negara-negara industri menurunkan emisinya secara kolektif<br />
sebesar 5,2 persen dari tingkat emisi tahun 1990.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Siapakah penghasil emisi karbondioksida      paling besar?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Setiap kepala penduduk di negara barat mengeluarkan emisi karbondioksida 25 kali lebih banyak daripada penduduk di negara-negara berkembang! Lima pengemisi karbondioksida terbesar di dunia adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, dan Jepang. Ini yang menyebabkan PHal ini yang menyebabkan Protokol Kyoto HANYA mengharuskan negara-negara maju, yang juga kaya, untuk menurunkan emisinya lebih dahulu. Ironisnya, Cina sebagai negara berkembang menunjukkan sikap kepemimpinan dalam menanggapi isu Perubahan Iklim , berkebalikan dengan negara-negara industri yang kian terpuruk. Emisi karbondioksida Cina pada tahun 1998 turun hingga 4% dengan tingkat ekonomi naik hingga lebih dari 7%.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Negara manakah yang menyumbang Gas      Rumah Kaca terbesar?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Data terakhir menunjuk pada Amerika Serikat sebagai penyumbang 720 juta ton Gas Rumah Kaca setara karbondioksida—setara dengan 25% emisi total dunia atau 20,5 ton per kapita. Emisi Gas Rumah Kaca pembangkit listrik di Amerika Serikat saja masih jauh lebih besar bila dibandingkan dengan total jumlah emisi 146 negara (tigaperempat negara di dunia)! Sektor energi menyumbang sepertiga total emisi Gas Rumah Kaca Amerika Serikat. Emisi Gas Rumah Kaca sektor energi Amerika Serikat lebih besar dua kali lipat dari emisi Gas Rumah Kaca India. Dan , total emisi Gas Rumah Kaca Amerika Serikat lebih besar dua kali lipat emisi Gas Rumah Kaca Cina. Emisi total dari negaranegara berkembang besar , seperti Korea, Meksiko, Afrika  Selatan, Brazil, Indonesia, dan<br />
Argentina, tidak melebihi emisi Amerika Serikat.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apakah yang dimaksud dengan Pemanasan      Global (Global Warming) dan Perubahan Iklim (Climate Change)?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Pemanasan Global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer. Pemanasan Global akan diikuti dengan Perubahan Iklim, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan , di belahan bumi lain akan mengalami musim kering yang berkepanjangan disebabkan kenaikan suhu.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Mengapa terjadi Pemanasan Global      (Global Warming) dan Perubahan Iklim (Climate Change)?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Pemanasan Global dan Perubahan Iklim terjadi akibat aktivitas manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta kegiatan lain yang berhubungan dengan hutan, pertanian , dan peternakan. Aktivitas manusia di kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan perubahan komposisi alami atmosfer, yaitu peningkatan jumlah Gas Rumah Kaca secara global.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apakah perbedaan antara Efek Rumah      Kaca, Pemanasan Global, dan PerubahanIklim?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Istilah -istilah di atas seringkali digunakan untuk menggambarkan hubungan sebab akibat. Efek Rumah Kaca adalah penyebab, sementara Pemanasan Global dan Perubahan Iklim adalah akibat.<br />
Efek Rumah Kaca menyebabkan terjadinya akumulasi panas (atau energi) di atmosfer bumi. Dengan adanya akumulasi yang berlebihan tersebut, iklim global melakukan penyesuaian. Penyesuaian yang dimaksud salah satunya peningkatan temperatur bumi, kemudian disebut Pemanasan Global dan berubahnya iklim regional—pola curah hujan, penguapan, pembentukan awam—atau Perubahan Iklim.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apa sajakah dampak-dampak Perubahan      Iklim?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span>Pada tahun 2100, temperatur atmosfer akan meningkat 1.5 – 4.5 derajat Celcius, jika pendekatan yang digunakan “melihat dan menunggu, tanpa melakukan apa-apa” (wait and see, and do nothing)!<br />
Dampak-dampak lainnya:<br />
- Musnahnya berbagai jenis keanekrag aman hayati<br />
- Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan badai, angin topan, dan banjir<br />
- Mencairnya es dan glasier di kutub<br />
- Meningkatnya jumlah tanah kering yang potensial menjadi gurun karena kekeringan yang berkepanjangan<br />
- Kenaikan permukaan laut hingga menyebabkan banjir yang luas. Pada tahun 2100 diperkirakan permukaan air laut naik hingga 15 &#8211; 95 cm.<br />
- Kenaikan suhu air laut menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) dan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia<br />
- Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan<br />
- Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, seperti malaria, ke daerah -daerah baru<br />
karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk)<br />
- Daerah-daerah tertentu menjadi padat dan sesak karena terjadi arus<br />
pengungsian.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apakah yang diprediksikan para ahli      mengenai Perubahan Iklim?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Pada tahun 1988, Badan PBB untuk lingkungan (United Nations Enviroment Programme) dan organisasi meteorologi dunia (World Meteorology Organization) mendirikan sebuah panel antar pemerintah untuk perubahan iklim (Intergovernmental Pan el on Climate Change/IPCC) yang terdiri atas 300 lebih pakar Perubahan Iklim dari seluruh dunia. Pada tahun 1990 dan 1992, IPCC menyimpulkan bahwa penggandaan jumlah Gas Rumah Kaca di atmosfer mengarah pada konsekuensi serius bagi masalah sosial, ekonomi, dan sistem alam di dunia. Selain itu, IPCC menyimpulkan bahwa emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia juga memberikan kontribusi pada Gas Rumah Kaca alami dan akan menyebabkan atmosfer bertambah panas. IPCC memperkirakan penggandaan emisi Gas Rumah Kaca akan menyebabkan Pemanasan Global sebesar 1,5 –4,5 derajat Celcius.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Pemanasan Global dan Perubahan Iklim,      apakah masih diperdebatkan?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Di dunia ilmu pengetahuan sudah tidak mempertentangkan lagi apakah Perubahan Iklim adalah masalah serius atau tidak. Kaum ilmuwan lebih menyibukkan diri pada bagaimana Perubahan Iklim itu terjadi, apa efek yang ditimbulkan, bagaimana mendeteksikannya, dan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk mengurangi dampaknya.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Bagaimana kita dapat meramalkan      Perubahan Iklim sementara kita tidak dapat meramalkan cuaca ?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Penting untuk di mengerti perbedaan antara iklim dan cuaca. Iklim à pola cuaca umum yang terjadi selama bertahun-tahun dalam jangka waktu panjang , antara 30-100 tahun. Contoh: iklim tropis, sub-tropis, iklim panas, iklim dingin. Cuaca àkondisi harian gejala alam, seperti suhu, curah hujan, tekanan udara dan angin , yang terjadi dan berubah dalam waktu singkat. Contoh: cerah berawan, hujan badai, dll.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apakah El Nino ada hubungannya dengan      Pemanasan Global dan Perubahan Iklim?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>El Nino adalah fenomena alami yang telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu, walaupun tidak selalu dengan pola yang sama. Ia merupakan gelombang panas di garis ekuator Samudera Pasifik. Kini, El Nino muncul setiap 2 – 7 tahun, lebih kuat dan berkontribusi pada peningkatan temperatur bumi. Dampaknya dapat dirasakan di seluruh dunia dan menunjukkan bahwa iklim di bumi benar -benar berhubungan. Para ilmuwan menguji bagaimana Pemanasan Global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dapat mempengaruhi El Nino: akumulasi Gas Rumah Kaca di atmosfer “membantu” menyuntikkan panas ke Samudera Pasifik. Oleh karena itu, El Nino muncul lebih sering<br />
dan lebih ganas dari sebelumnya.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apakah penipisan lapizan ozon ada      hubungan nya dengan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span>Masalah lingkungan dan kesehatan manusia yang terkait dengan penipisan lapisan ozon sesungguhnya berbeda dengan resiko yang dihadapi manusia dari akibat Pemansan Global. Walaupun begitu, kedua fenomena tersebut saling berhubungan. Beberapa polutan (zat pencemar) memberikan kontribusi yang sama terhadap penipisan lapisan ozon dan Pemanasan Global. Penipisan lapisan ozon mengakibatkan masuknya lebih banyak radiasi sinar ultraviolet (UV) yang berbahaya masuk ke permukaan bumi. Namun, meningkatnya radiasi sinar UV bukanlah penyebab terjadinya Pemanasan Global, melainkan kanker kulit, penyakit katarak, menurunnya kekebalan tubuh manusia, dan menurunnya hasil panen.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Penipisan lapisan ozon terutama      disebabkan oleh chlorofluorcarbon (CFC).</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Saat ini negara-negara industri sudah tidak memproduksi dan menggunakan CFC lagi. Dan, dalam waktu dekat, CFC akan benar -benar dihapus di seluruh dunia. Seperti halnya karbondioksida, CFC juga merupakan Gas Rumah Kaca dan berpotensi terhadap Pemanasan Global jauh lebih tinggi dibanding karbondioksida sehingga dampak akumulasi CFC di atmosfer mempercepat laju Pemanasan Global. CFC akan tetap berada di atmosfer dalam waktu sangat lama, berabad -abad. Artinya, kontribusi CFC terhadap penipisan lapisan ozon dan Perubahan Iklim akan berlangsung dalam waktu sangat lama.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Apa yang bisa dilakukan oleh      negara-negara di dunia untuk menghentikan Pemanasan Global?</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span>Working GroupIII—IPCC membuat studi teknologi dan ekonomi secara literatur untuk menunjukkan kebijakan berorientasi pasar yang dirancang sungguh -sungguh agar dapat mengurangi emisi Gas Rumah Kaca sekaligus kebijakan pembiayaan untuk menghadapi dampak Perubahan Iklim. Studi ini dibuat agar akibat dari Pemanasan Global dan Perubahan Iklim tetap dapat memberikan manfaat ekonomi, termasuk lebih banyak sistem energi yang cost-effective, terjadinya inovasi teknologi yang lebih cepat, mengurangi pengeluaran untuk subsidi yang tidak tepat, dan pasar yang lebih efisien. Pada intinya negara-negara di dunia berusaha melakukan efisiensi energi dan memasyarakatkan penggunaan energi yang dapat diperbarui (renewable energy) untuk<br />
mengurangi atau bahkan menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Denmark adalah salah satu negara yang tetap menikmati pertumbuhan ekonomi yang kuat meskipun harus mengurangi emisi Gas Rumah Kaca. Di bawah ini adalah situs-situs web yang dapat dipergunakan sehubungan dengan masalah pemanasan global dan perubahan iklim:<br />
· www.ipcc.ch<br />
· www.unfccc.int<br />
· www.climateark.org<br />
· www.greenpeaceusa.org/climate<br />
· www.epa.gov/globalwarming<br />
· www.ncdc.noaa.gov/ol/climate/globalwarming.html<br />
· www.climatehotmap.org/<br />
· globalwarming.enviroweb.org/<br />
· www.worldwildlife.org/climate/climate.cfm<br />
· www.panda.org/climate/<br />
setiap detik, menit, jam dan hari maka akan semakin rusak bumi ini</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bumikita.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bumikita.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bumikita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bumikita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bumikita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bumikita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bumikita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bumikita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bumikita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bumikita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bumikita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bumikita.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=12&subd=bumikita&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/global-warming-menakutkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/182346c55893a240f0fa2630e4f9247d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ncepzz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>All About Global Warming</title>
		<link>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/all-about-global-warming/</link>
		<comments>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/all-about-global-warming/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 16:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ncepzz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Global Warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bumikita.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[GLOBAL WARMING &#8211; Suhu Bumi kacau,bencana alam,kiamat? 


&#8220;Global Warming&#8221; kata ini diIndonesiakan sebagai &#8220;Pemanasan Global&#8221;, dari apa yang saya ketahui adalah Suhu di bumi ini memanas dan mendingin secara kacau. Antara lain musim di Indonesia, mana yang musim ujan, mana yang panas, ga jelas lagi&#8230;
Bali banjir&#8230; Angin taufan di dekat P.Bangka&#8230; GELOMBANG PANAS yang bersuhu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=11&subd=bumikita&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">GLOBAL WARMING &#8211; Suhu Bumi kacau,bencana alam,kiamat?</span></strong><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0.75pt 0;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="margin:0.75pt 0;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">&#8220;Global Warming&#8221; kata ini diIndonesiakan sebagai &#8220;Pemanasan Global&#8221;, dari apa yang saya ketahui adalah Suhu di bumi ini memanas dan mendingin secara kacau. Antara lain musim di Indonesia, mana yang musim ujan, mana yang panas, ga jelas lagi&#8230;<br />
Bali banjir&#8230; Angin taufan di dekat P.Bangka&#8230; GELOMBANG PANAS yang bersuhu 43 derajat celcius di Eropa, yang &#8220;CUMA&#8221; Lewat dan menewaskan 5 orang (yang lain kepanasan bgt), Di Peru yang panas tapi sungainya MEMBEKU&#8230; anak2 jadi ga bisa minum sungai beku dan pengairan sawah gagal&#8230;</p>
<p>Penyebabnya yang saya tahu adalah EMISI PABRIK dan KENDARAAN BERMOTOR. Makin banyak pabrik, kendaraan pribadi &amp; umum dan polusi tsb TIDAK DISARING/FILTER. Kalo difilter mungkin ONGKOS PRODUKSI PABRIK bisa jadi mahal dan tidak bisa bersaing. Bajaj2 dan BIS2 yang asepnya item, apa mau ganti kendaraan yang ga KOTOR ASEPnya?</p>
<p>Menurut teman2 ttg Global Warming itu gimana?<br />
NB: LAPINDO tuh bukan efek Global Warming kan?</p>
<p>Love your Earth<br />
David S</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0.75pt 0;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">__________________<br />
&#8220;Sejarah tidak hanya bisa diciptakan pada jaman dulu,<br />
?sekarang pun anda bisa menciptakan sejarah!<br />
?Marilah kita kembangkan Indonesia ini sebisa kita.<br />
?Jadikan diri anda orang besar bagi negara! Bukan Penyakit!&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<h2>Iklim Global</h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><a title="Email This Post" href="http://langitselatan.com/2007/05/02/iklim-global-dan-iklim-matahari/email/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a><a title="Print This Post" href="http://langitselatan.com/2007/05/02/iklim-global-dan-iklim-matahari/print/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">By <a title="Posts by nggieng" href="http://langitselatan.com/author/nggieng/"><span style="color:windowtext;">nggieng</span></a> • May 2nd, 2007 at 9:59 pm • Category: <a title="View all posts in Matahari" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/matahari/"><span style="color:windowtext;">Matahari</span></a>, <a title="View all posts in Tata Surya" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/"><span style="color:windowtext;">Tata Surya</span></a></span></p>
<p>Secara langsung maupun tidak langsung, angin dan awan di permukaan bumi terkait dengan matahari. Panas dari matahari memproduksi perbedaan temperatur, yang mengarahkan pada perbedaan temperatur. Dan angin selalu bergerak dari tekanan tinggi ke rendah.</p>
<p>Laut menjadi tempat penyimpanan panas matahari, dan arus laut global menggerakkan energi yang tersimpan tersebut, menyebabkan adanya iklim global, dari angin sepoi-sepoi sampai adanya badai lautan. La-nina, el-nino, merupakan salah satu fenomena musiman, yang selalu terjadi setiap tahun, seiring dengan perubahan bumi mengelilingi matahari. Demikian juga dengan interaksi harian antara udara tropis yang hangat-lembab dan udara dingin arktik yang menyebabkan adanya tornado di selatan dan barat-tengah amerika, dan kadang-kadang mengarah ke timur laut. Pergeseran kutub bumi dalam mengelilingi matahari juga merupakan penyebab terjadinya musim.</p>
<p>Studi mendalam juga dilakukan untuk menunjukkan adanya hubungan antara siklus matahari dengan tingkat terjadinya awan. Seperti juga yang telah dilakukan LAPAN, mengenai tingkat terjadinya awan dengan silus 11-tahunan matahari.</p>
<p>Studi mengenai perubahan kecerlangan matahari, memunculkan dugaan adanya kaitan dengan pemanasan global. Meskipun masih lebih dipercaya bahwa pemanasan global lebih disebabkan karena peningkatan kadar karbon dioksida di bumi, tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa matahari-pun memberikan sumbangan pada pemanasan global. Ketika siklus matahari menuju maksimum, matahari menjadi lebih cerlang, terdapat banyak bukti yang mendukung hubungan antara kecerlangan dan tingkat â€˜kehangatanâ€™ global. Hubungan ini tidak hanya untuk siklus 11-tahun-an, tetap untuk periode yang lebih panjang dari aktivitas tinggi dan rendah matahari.</p>
<p>Studi cincin pohon dan es glasial masa lalu menjadi petunjuk temperatur global masa lalu, dan dicoba dicari kaitannya dengan siklus matahari dimasa lalu. Terutama, (kembali) pada jaman es kecil, menjadi petunjuk yang sangat berharga mengenai kaitan tersebut. Aktivitas matahari ternyata cukup tinggi sebelum abad ke-13. Meskipun masih menjadi perdebatan mengenai total keluaran matahari apakah cukup untuk mempengaruhi secara kuat iklim di bumi, tetapi tidak dapat disangkal hubungan tersebut memang ada.</p>
<p>Semburan angin matahari dalam bentuk radiasi, berarti juga adanya semburan proton. Ketika terjadi badai, proton membombardir atmosfer atas, memecah molekul gas seperti nitrogen dan uap air. Ketika terbebaskan, atom-atom tersebut bereaksi dengan molekul ozon dan memecah-nya menjadi unsur yang berbeda. Studi menggunakan satelit menunjukkan bahwa efek tersebut memang terjadi, meskipun kecil tetapi terukur. Dengan demikian, matahari memberikan pengaruh pada perubahan lubang ozon di atmosfer bumi</p>
<h2>Global Warming &#8211; Apa dan mengapa</h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><a title="Email This Post" href="http://langitselatan.com/2008/02/09/global-warming-apa-dan-mengapa/email/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a><a title="Print This Post" href="http://langitselatan.com/2008/02/09/global-warming-apa-dan-mengapa/print/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">By <a title="Posts by nggieng" href="http://langitselatan.com/author/nggieng/"><span style="color:windowtext;">nggieng</span></a> • Feb 9th, 2008 at 10:53 am • Category: <a title="View all posts in Bumi" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/bumi/"><span style="color:windowtext;">Bumi</span></a></span></p>
<p><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" alt="global_warming.gif" width="200" height="143" align="left" /><!--[endif]-->Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menunjukkan bahwa iklim bisa berubah dengan sendirinya, dan berubah secara radikal. Apa penyebabnya? Meteor jatuh? <a href="http://langitselatan.com/2007/05/02/iklim-global-dan-iklim-matahari/" target="_blank"><span style="color:windowtext;">Variasi panas Matahari</span></a>? Gunung meletus yang menyebabkan awan asap? Perubahan arah angin akibat perubahan struktur muka Bumi dan arus laut? Atau karena komposisi udara yang berubah? Atau sebab yang lain?</p>
<p>Sampai baru pada abad 19, maka studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi. Apa itu gas rumah kaca?</p>
<p>Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.</p>
<p>Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).</p>
<p>Tiga puluh tahun kemudian, bapak Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.</p>
<p>Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.</p>
<p>Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.</p>
<p>Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO<sub>2</sub>e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO<sub>2</sub> &#8211; yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO<sub>2</sub> per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.</p>
<p>Lalu, jika memang terjadi pemanasan, sebagaimana disebut; yang kemudian dikenal sebagai pemanasan global, (atau dalam istilah populer bahasa Inggris, kita sebut sebagai Global Warming): Apakah merupakan fenomena alam yang tidak terhindarkan? Atau ada suatu sebab yang signfikan, sehingga menjadi ‘populer’ seperti sekarang ini? Apakah karena Al Gore dengan filmnya <a href="http://langitselatan.com/2007/04/24/dalam-rangka-memperingati-hari-bumi-inconvenient-truth/" target="_blank"><em><span style="color:windowtext;">“An Inconvenient Truth”</span></em></a> yang mempopulerkan global warming? Tentunya tidak sesederhana itu.</p>
<p>Perlu kerja-sama internasional untuk bisa mengatakan bahwa memang manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (<em>Intergovernmental Panel on Climate Change</em>) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi Matahari dan keseluruhan permukaan Bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Dalam besaran yang dinyatakan sebagai <em>Radiative Forcing</em> sebagai alat ukur apakah iklim global menjadi panas atau dingin (warna merah menyatakan nilai positif atau menyebabkan menjadi lebih hangat, dan biru kebalikannya), maka ditemukan bahwa akibat kegiatan manusia-lah (antropogenik) yang menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan global (Gb.1).</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.jpg" border="0" alt="Laporan IPCC, 2007." width="500" height="380" /><!--[endif]--><br />
Hasil perhitungan perkiraan agen pendorong terjadinya pemanasan global dan mekanismenya (kolom satu), berdasarkan pengaruh radiasi (Radiative Forcing), dalam satuan Watt/m^2, untuk sumber antropogenik dan sumber yang lain, tanda merah dan nilai positif dari kolom dua dan tiga berarti sumbangan pada pemanasan, sedangkan biru adalah efek kebalikannya. Kolom empat menyatakan dampak pada skala geografi, sedangkan kolom kelima menyatakan tingkat pemahaman ilmiah (Level of Scientific Understanding), Sumber: Laporan IPCC, 2007.</p>
<p>Dari gambar terlihat bahwa karbon-dioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Dari masa pra-industri yang sebesar 280 ppm menjadi 379 ppm pada tahun 2005. Angka ini melebihi angka alamiah dari studi perubahan iklim dari masa lalu (paleoklimatologi), dimana selama 650 ribu tahun hanya terjadi peningkatan dari 180-300 ppm. Terutama dalam dasawarsa terakhir (1995-2005), tercatat peningkatan konsentrasi karbon-dioksida terbesar pertahun (1,9 ppm per tahun), jauh lebih besar dari pengukuran atmosfer pada tahun 1960, (1.4 ppm per tahun), kendati masih terdapat variasi tahun per tahun.</p>
<p>Sumber terutama peningkatan konsentrasi karbon-dioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Peningkatan konsentrasi metana (CH4), dari 715 ppb (part per billion= satu per milyar) di jaman pra-industri menjadi 1732 ppb di awal 1990-an, dan 1774 pada tahun 2005. Ini melebihi angka yang berubah secara alamiah selama 650 ribu tahun (320 &#8211; 790 ppb). Sumber utama peningkatan metana pertanian dan penggunaan bahan bakar fosil. Konsentrasi nitro-oksida (N<sub>2</sub>O) dari 270 ppb &#8211; 319 ppb pada 2005. Seperti juga penyumbang emisi yang lain, sumber utamanya adalah manusia dari agrikultural. Kombinasi ketiga komponen utama tersebut menjadi penyumbang terbesar pada pemanasan global.</p>
<p>Kontribusi antropogenik pada aerosol (sulfat, karbon organik, karbon hitam, nitrat and debu) memberikan efek mendinginkan, tetapi efeknya masih tidak dominan dibanding terjadinya pemanasan, disamping ketidakpastian perhitungan yang masih sangat besar. Demikian juga dengan perubahan ozon troposper akibat proses kimia pembentukan ozon (nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon) berkontribusi pada pemanasan global. Kemampuan pemantulan cahaya Matahari (albedo), akibat perubahan permukaan Bumi dan deposisi aerosol karbon hitam dari salju, mengakibatkan perubahan yang bervariasi, dari pendinginan sampai pemanasan. Perubahan dari pancaran sinar Matahari (solar irradiance) tidaklah memberi kontribusi yang besar pada pemanasan global.</p>
<p>Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa memang manusia yang berperanan bagi nasibnya sendiri, karena pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia sendiri. Lalu bagaimana dampak Global Warming bagi kehidupan? Alur waktu prediksi dan dampak dari perspektif sains dapat dibaca pada bagian kedua tulisan ini.</p>
<h2>Global Warming 2007, Tahun Terpanas Kedua di Bumi</h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><a title="Email This Post" href="http://langitselatan.com/2008/01/23/global-warming-2007-tahun-terpanas-kedua-di-bumi/email/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a><a title="Print This Post" href="http://langitselatan.com/2008/01/23/global-warming-2007-tahun-terpanas-kedua-di-bumi/print/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">By <a title="Posts by ivie" href="http://langitselatan.com/author/ivie/"><span style="color:windowtext;">ivie</span></a> • Jan 23rd, 2008 at 10:08 am • Category: <a title="View all posts in Bumi" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/bumi/"><span style="color:windowtext;">Bumi</span></a>, <a title="View all posts in News" href="http://langitselatan.com/category/news/"><span style="color:windowtext;">News</span></a></span></p>
<p>Menurut para ahli klimatologi di NASA, tahun 2007 merupakan tahun kedua terpanas pada abad ini, bersaing dengan tahun 1998. Dan diperkirakan kecil kemungkinan tahun 2008 akan menjadi tahun dengan rata-rata temperatur global yang berbeda. Dengan adanya erupsi vulkanik, kemungkinan yang terjadi rekor temperatur global tahun ini akan melampaui temperatur rata-rata di tahun 2005 dalam beberapa tahun ke depan, saat El Nino berikutnya terjadi sebagai akibat trend pemanasan global yang terus meningkat akibat gas rumah kaca.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.jpg" border="0" alt="GISS" width="410" height="289" /><!--[endif]--><br />
Grafik temperatur permukaan global tahunan relatif terhadap temperatur rata-rata tahun 1951-1980. Data udara dan lautan dari stasiun cuaca, kapal, dan satelit. Titik tahun 2007 merupakan anomali di bulan ke 11. Kredit gambar: GISS</p>
<p>Pemanasan terbesar pada tahun 2007 terjadi di Artik dan daerah sekitarnya yang memiliki lintang tinggi. Pemanasan global sendiri memiliki efek yang sangat besar di area kutub dengan menghilangnya salju dan memicu peningkatan air terbuka (lautan) yang menyerap lebih banyak cahaya dan panas matahari. Salju dan es memantulkan cahaya matahari, nah saat mereka menghilang maka menghilang pula kemampuan mereka untuk mengalihkan panas matahari. Anomali paling besar di Artik pada tahun 2007 konsisten dengan rekaman geografi terhadap lautan es Artik di bulan September 2007.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.jpg" border="0" alt="GISS" width="416" height="289" /><!--[endif]--><br />
Anomali temperatur thn 2007 relatif terhadap temperatur rata-rata tahun 1951-1980. Area yang panas berwarna merah, yang lebih dingin berwarna biru. Peningkatan terbesar terjadi di belahan utara. Kredit gambar: GISS</p>
<p>Menurut direktur NASA Goddard Institute for Space Studies (GISS), James Hansen, keadaan tahun 2007 yang lebih panas dari tahun 2006 memang sudah diprediksikan sebelumnya. Keadaan ini meneruskan tren efek pemanasan yang semakin kuat selama 30 tahun terakhir dan diperkirakan berasal dari efek peningkatan gas rumah kaca yang dihasilkan manusia.<br />
sumber : NASA</p>
<h2>Es di Greenland dan Global Warming</h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><a title="Email This Post" href="http://langitselatan.com/2007/05/30/es-di-greenland-dan-global-warming/email/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a><a title="Print This Post" href="http://langitselatan.com/2007/05/30/es-di-greenland-dan-global-warming/print/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">By <a title="Posts by ivie" href="http://langitselatan.com/author/ivie/"><span style="color:windowtext;">ivie</span></a> • May 30th, 2007 at 6:34 pm • Category: <a title="View all posts in Bumi" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/bumi/"><span style="color:windowtext;">Bumi</span></a>, <a title="View all posts in News" href="http://langitselatan.com/category/news/"><span style="color:windowtext;">News</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image009.jpg" alt="NASA/Robert Simmon and Marit Jentoft-Nilsen. Foto satelit yang menunjukkan jumlah hari terjadinya proses pelelehan di tahun 2006. Warna biru gelap menunjukkan area yang memiliki hari pelelehan terbesar." width="146" height="250" align="left" /><!--[endif]--><br />
Credit: NASA/Robert Simmon and Marit Jentoft-Nilsen. Foto satelit yang menunjukkan jumlah hari terjadinya proses pelelehan di tahun 2006. Warna biru gelap menunjukkan area yang memiliki hari pelelehan terbesar.</p>
<p class="MsoNormal">Tahun 2006, Greenland mengalami hari-hari mencairnya salju pada ketinggian yang lebih tinggi dibanding ketinggian rata-rata selama 18 tahun. Hasil pengamatan harian menunjukkan mencairnya salju di lapisan es Greenland mengalami peningkatan setiap harinya.</p>
<p>Monitoring terhadap pelelehan saju di lapisan es Greenland secara harian dilakukan dengan Special Sensor Microwave Imaging radiometer (SSM/I) yang berada di pesawat ruang angkasa Defense Meteorological Satellite Program. Sensor akan mengukur sinyal elektromagnetik yang dipancarkan lapisan es dan mendeteksi lelehan salju yang terjadi lebih dari 10 hari lebih lama dari rata-rata yang terjadi pada area tertentu di Greenland.</p>
<p>Dengan adanya hasil pengamatan satelit secara periodik memberikan data dan informasi yang akan membantu para peneliti untuk mengetahui kecepatan alir glacier, banyaknya air dari salju yang mencair dan bergabung dengan lautan disekitarnya, juga untuk mengetahui seberapa banyak radiasi Matahari yang akan dipantulkan kembali ke atmosfer.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image011.jpg" alt="NASA/Robert Simmon and Marit Jentoft-Nilsen" width="136" height="243" align="right" /><!--[endif]--><br />
Jumlah hari dimana terjadi pelelehan di tahun 2006 berada di atas rata-rata proses pelelehan di tahun 1988-2005. Area merah gelap mingindikasikan anomali jumlah hari yang berada di atas rata-rata. Credit: NASA/Robert Simmon and Marit Jentoft-Nilsen</p>
<p class="MsoNormal">Salju kering dan basah memang terlihat sama jika dilihat untuk pertama kalinya. Tapi salju yang basah dan salju yang mengalami pembekuan kembali, memiliki tingkat penyerapan radiasi sinar Matahari yang lebih tinggi, dan hanya memantulkan 50-60 persen ke atmosfer. Sedangkan salju kering, memantulkan kembali 85 % radiasi Matahari. Dengan kata lain, salju yang meleleh akan menyerap 3-4 kali energi yang sama dibanding salju kering. Ini tentu akan memberi pengaruh yang besar pada persediaan energi di Bumi.</p>
<p>Mencairnya salju di Greenland memberi pengaruh yang sangat besar terhadap luas lapisan es yang terus berkurang dan terhadap tinggi dan dalam lautan diseluruh dunia. Sebagian air yang dihasilkan dari salju yang mencair juga akan mengalir kedalam glacier melalui patahan-patahan dan alur lubang vertikal (moulin), kemudian mencapai lapisan batuan dibawahnya dan melubrikasi (meminyaki, mencairkan) lapisan es diatasnya.</p>
<p>Pengamatan dan studi yang dilakukan sebelumnya oleh Jay Zwally dan Waleed Abdalati dari NASA Goddard menunjukkan, air yang mencair pada musim panas pada dasar lapisan es bisa meningkatkan gerak es dan menyebabkan terjadinya peningkatan level lautan (tinggi dan dalamnya) dengan sangat cepat. Fenomena ini akan mempercepat terjadinya pemanasan global.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image013.jpg" border="0" alt="NASA." width="277" height="214" /><!--[endif]--><br />
Gambar skematik permukaan glacial yang mengilustrasikan bagaimana moulins mentransport air ke dasar glacier. credit : NASA.</p>
<p>sumber : <a href="http://www.nasa.gov/centers/goddard/news/topstory/2007/snowmelt_greenland.html" target="_blank"><span style="color:windowtext;">NASA</span></a></p>
<h2>Iklim Global</h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><a title="Email This Post" href="http://langitselatan.com/2007/05/02/iklim-global-dan-iklim-matahari/email/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a><a title="Print This Post" href="http://langitselatan.com/2007/05/02/iklim-global-dan-iklim-matahari/print/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">By <a title="Posts by nggieng" href="http://langitselatan.com/author/nggieng/"><span style="color:windowtext;">nggieng</span></a> • May 2nd, 2007 at 9:59 pm • Category: <a title="View all posts in Matahari" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/matahari/"><span style="color:windowtext;">Matahari</span></a>, <a title="View all posts in Tata Surya" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/"><span style="color:windowtext;">Tata Surya</span></a></span></p>
<p>Secara langsung maupun tidak langsung, angin dan awan di permukaan bumi terkait dengan matahari. Panas dari matahari memproduksi perbedaan temperatur, yang mengarahkan pada perbedaan temperatur. Dan angin selalu bergerak dari tekanan tinggi ke rendah.</p>
<p>Laut menjadi tempat penyimpanan panas matahari, dan arus laut global menggerakkan energi yang tersimpan tersebut, menyebabkan adanya iklim global, dari angin sepoi-sepoi sampai adanya badai lautan. La-nina, el-nino, merupakan salah satu fenomena musiman, yang selalu terjadi setiap tahun, seiring dengan perubahan bumi mengelilingi matahari. Demikian juga dengan interaksi harian antara udara tropis yang hangat-lembab dan udara dingin arktik yang menyebabkan adanya tornado di selatan dan barat-tengah amerika, dan kadang-kadang mengarah ke timur laut. Pergeseran kutub bumi dalam mengelilingi matahari juga merupakan penyebab terjadinya musim.</p>
<p>Studi mendalam juga dilakukan untuk menunjukkan adanya hubungan antara siklus matahari dengan tingkat terjadinya awan. Seperti juga yang telah dilakukan LAPAN, mengenai tingkat terjadinya awan dengan silus 11-tahunan matahari.</p>
<p>Studi mengenai perubahan kecerlangan matahari, memunculkan dugaan adanya kaitan dengan pemanasan global. Meskipun masih lebih dipercaya bahwa pemanasan global lebih disebabkan karena peningkatan kadar karbon dioksida di bumi, tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa matahari-pun memberikan sumbangan pada pemanasan global. Ketika siklus matahari menuju maksimum, matahari menjadi lebih cerlang, terdapat banyak bukti yang mendukung hubungan antara kecerlangan dan tingkat â€˜kehangatanâ€™ global. Hubungan ini tidak hanya untuk siklus 11-tahun-an, tetap untuk periode yang lebih panjang dari aktivitas tinggi dan rendah matahari.</p>
<p>Studi cincin pohon dan es glasial masa lalu menjadi petunjuk temperatur global masa lalu, dan dicoba dicari kaitannya dengan siklus matahari dimasa lalu. Terutama, (kembali) pada jaman es kecil, menjadi petunjuk yang sangat berharga mengenai kaitan tersebut. Aktivitas matahari ternyata cukup tinggi sebelum abad ke-13. Meskipun masih menjadi perdebatan mengenai total keluaran matahari apakah cukup untuk mempengaruhi secara kuat iklim di bumi, tetapi tidak dapat disangkal hubungan tersebut memang ada.</p>
<p>Semburan angin matahari dalam bentuk radiasi, berarti juga adanya semburan proton. Ketika terjadi badai, proton membombardir atmosfer atas, memecah molekul gas seperti nitrogen dan uap air. Ketika terbebaskan, atom-atom tersebut bereaksi dengan molekul ozon dan memecah-nya menjadi unsur yang berbeda. Studi menggunakan satelit menunjukkan bahwa efek tersebut memang terjadi, meskipun kecil tetapi terukur. Dengan demikian, matahari memberikan pengaruh pada perubahan lubang ozon di atmosfer bumi.</p>
<p class="MsoNormal">
<h2>Kemiripan Atmosfer Venus dan Mars</h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><a title="Email This Post" href="http://langitselatan.com/2008/03/07/kemiripan-atmosfer-venus-dan-mars/email/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a><a title="Print This Post" href="http://langitselatan.com/2008/03/07/kemiripan-atmosfer-venus-dan-mars/print/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">By <a title="Posts by ivie" href="http://langitselatan.com/author/ivie/"><span style="color:windowtext;">ivie</span></a> • Mar 7th, 2008 at 3:35 pm • Category: <a title="View all posts in Planet" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/planet/"><span style="color:windowtext;">Planet</span></a></span></p>
<p>Pengamatan terhadap atmosfer Venus dan Mars dilakukan dengan menggunakan dua buah pesawat ruang angkasa milik ESA. Observasi simultan yang dilakukan oleh Mars Express dan Venus Express memberikan data yang dibutuhkan untuk memahami evolusi atmosfer kedua planet. Pekerjaan ini disebut planetologi dan pengamatan yang dilakukan Mars Express dan venus Express memberi hasil yang baik, karena keduanya membawa instrumen yang mirip yakni <em>Analyser of Space Plasmas and Energetic Atoms</em> (ASPERA). Dengan demikian, para peneliti bisa langsung melakukan perbandingan antara kedua planet.</p>
<p>[Javascript required to view Flash movie, please turn it on and refresh this page]</p>
<p>	document.getElementById(&#8220;player1&#8243;).style.display = &#8220;&#8221;;</p>
<p>	var s1 = new SWFObject(&#8220;http://langitselatan.com/wp-content/plugins/flv-embed/flvplayer.swf&#8221;,&#8221;player1&#8243;,&#8221;230&#8243;,&#8221;150&#8243;,&#8221;7&#8243;);<br />
	s1.addParam(&#8220;allowfullscreen&#8221;,&#8221;true&#8221;);<br />
	s1.addVariable(&#8220;height&#8221;,&#8221;150&#8243;);<br />
	s1.addVariable(&#8220;width&#8221;,&#8221;230&#8243;);<br />
	s1.addVariable(&#8220;file&#8221;,&#8221;/wp-content/uploads/2008/03/atmosfer.flv&#8221;);<br />
	s1.addVariable(&#8220;autostart&#8221;,&#8221;true&#8221;);<br />
	s1.addVariable(&#8220;fsbuttonlink&#8221;,&#8221;http://langitselatan.com/wp-content/plugins/flv-embed/fullscreen.php?f=/wp-content/uploads/2008/03/atmosfer.flv%26r=http://langitselatan.com/2008/03/07/kemiripan-atmosfer-venus-dan-mars/&#8221;);<br />
	s1.write(&#8220;player1&#8243;);<br />
Hasil terbaru datang dari area magnetik yang merupakan saluran yang berpengaruh dalam lepasnya partikel-partikel elektrik. Hasilnya menunjukan adanya deteksi dari seluruh atom yang lepas dari atmosfer Venus dan juga ditunjukan laju lepasnya bertumbuh sampai 10 kali di Mars saat badai Matahari menerjang pada Bulan Desember 2006.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image014.jpg" alt="ESA" width="120" height="120" align="left" /><!--[endif]--><br />
Mars Express. Kredit Gambar : ESA</p>
<p class="MsoNormal">Dengan mengamati laju kehilangan saat ini di kedua atmosfer, diharapkan dapat dipahami apa yang terjadi di masa lalu sehingga evolusi iklim planet bisa dipelajari lebih lanjut. Hasil pengamatan yang baru menunjukan, lepas dari masalah perbedaan ukuran dan jarak dari Matahari, Venus dan Mars ternyata menunjukan adanya kemiripan. Kedua planet memiliki cahaya dari partikel elektrik yang mengalir keluar dari atmosfernya. Partikel tersebut mengalami percepatan akibat interaksi dengan angin Matahari, arus konstan yang terdiri dari partikel elektrik yang dilepaskan Matahari.</p>
<p>Di Bumi, angin Matahari tidak berinteraksi secara langsung dengan atmosfer, karena angin Matahari yang tiba di Bumi dialihkan oleh mantel magnetis alam yang dimiliki Bumi. Di Venus dan Mars mantel magnetik ini ada di dalam planet, akibatnya atmosfer kedua planet mengalami akibat dari interaksi dengan angin Matahari.</p>
<p>Yang menarik, interaksi penuh ini menyebabkan terjadinya medan magnetik lemah yang menutupi dirinya sendiri disekeliling tiap planet dan membentang keluar menuju sisi malam dalam bentuk ekor yang panjang. Venus memiliki atmosfer yang tebal dan memiliki kerapatan tinggi sementara Mars lebih tipis dan renggang. Mengesampingkan perbedaan ini, instumen magnetometer menemukan kalau struktur medan magnet kedua planet ternyata serupa. Hal ini bisa terlihat dari kerapatan ionosfer keduanya pada ketinggian 250 km ternyata sangatlah mirip. Ionosfer merupakan lapisan yang sekelilingnya terdiri dari partikel elektrik yang terbentuk dari tabrakan (interaksi) sinar Matahari dengan lapisan teratas atmosfer planet.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image015.jpg" alt="ESA" width="120" height="120" align="right" /><!--[endif]--><br />
Ilustrasi artis untuk Venus Express. Kredit Gambar : ESA</p>
<p class="MsoNormal">Kedekatan Venus dengan Matahari bagaimanapun memberikan perbedaan yang penting. Angin Matahari semakin tipis saat ia bergerak melintasi angkasa. Karena itu semakin dekat ke Matahari, pertemuan dengan angin Matahari akan memberikan semakin besar gaya yang terkonsentrasi. Akibatnya medan magnet yang ditimbulkan juga semakin kuat sehingga partikel atmosfer yang lepas akan bergerak secara kolektif seperti aliran air.</p>
<p>Di Mars, medan yang lebih lemah maksutnya partikel yang lepas akan bergerak secara individu. Inilah yang jadi perbedaan mendasar di antara kedua planet. Perbedaan lainnya adalah Mars menunjukan adanya medan magnet yang kuat dalam skala kecil yang terkunci di dalam kerak planet. Di beberapa area, kantung ini melindungi atmosfer sementara di tempat lain kantung tersebut membantu aliran atmosfer ke angkasa.</p>
<p>Proses yang berbeda dan juga kompleks di Venus dan Mars justru menunjukan kalau gambaran besar dan menyeluruh dari evolusi atmosfer kedua planet masih belum bisa diungkap. Masih dibutuhkan banyak data untuk bisa memngungkap itu semua. Masih banyak yang harus dilakukan karena ada banyak mekanisme yang berbeda untuk bisa menjelaskan penyebab lepasnya partikel atmosfer. Nah, ini semua membutuhkan waktu. Jadi semakin lama kedua pesawat ruang angkasa bisa bekerjasama makan semakin banyak pula yang bisa dilihat dan diketahui.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.esa.int/esaSC/SEMMAGK26DF_index_0.html" target="_blank"><span style="color:windowtext;">ESA</span></a></p>
<p><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;"><br /> </span></strong></p>
<h2>Dawn, Perjalanan Menuju Masa Lalu</h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><a title="Email This Post" href="http://langitselatan.com/2007/07/08/dawn-perjalanan-menuju-masa-lalu/email/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a><a title="Print This Post" href="http://langitselatan.com/2007/07/08/dawn-perjalanan-menuju-masa-lalu/print/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">By <a title="Posts by ivie" href="http://langitselatan.com/author/ivie/"><span style="color:windowtext;">ivie</span></a> • Jul 8th, 2007 at 10:05 am • Category: <a title="View all posts in Asteroid" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/asteroid/"><span style="color:windowtext;">Asteroid</span></a>, <a title="View all posts in Tata Surya" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/"><span style="color:windowtext;">Tata Surya</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image017.jpg" alt="UCLA" width="219" height="168" align="left" /><!--[endif]--><br />
Dawn diantara vesta dan Ceres. image credit : UCLA</p>
<p class="MsoNormal">Tanggal 777, sebuah misi untuk menembus masa lalu rencananya akan diluncurkan. Namun sayangnya tanggal 7 Juli yang seharusnya merupakan titik awal perjalanan Dawn akhirnya harus ditunda. Dalam press release NASA, Dawn dijadwalkan kembali untuk diluncurkan pada bulan September 2007. Misi Dawn akan menjelajah ke masa lebih dari 4,5 miliar tahun yang lalu Masa di saat Tata Surya pertama kali terbentuk. Dalam perjalanan ini Dawn tidak akan kembali ke masa lalu melainkan pergi menjumpai asteroid, obyek yang berada di antara Mars dan Jupiter.</p>
<p>Target utama misi Dawn adalah asteroid Vesta dan planet katai Ceres yang menempati Sabuk Asteroid bersama ribuan benda kecil lainnya atau yang kita kenal sebagai asteroid. Di daerah ini akan dijumpai ribuan asteroid yang terjebak diantara peperangan tarik menarik antara Matahari dan Jupiter. Dan di area ini angka tabrakan antar asteroid cukup tinggi. Namun demikian Ceres dan Vesta merupakan dua diantara asteroid yang masih tetap utuh sejak terbentuk sampai saat ini. Tahun 2006, bersama dengan resolusi IAU mengenai definisi planet, Ceres tidak lagi dikategorikan sebagai asteroid, melainkan masuk dalam kelas planet katai bersama Pluto dan Eris.</p>
<p><strong>Mengapa Asteroid Vesta dan Ceres ?</strong><br />
Asteroid terbentuk bersamaan dengan terbentuknya planet batuan seperti Merkurius, Venus, Bumi dan Mars. Namun dalam proses pertumbuhan planet-planet di Tata Surya, ada planet yang tidak sempat bertumbuh karena pengaruh gravitasi Jupiter. Cikal bakal planet inilah yang kemudian kita kenal sebagai asteroid. Karena itu, diperkirakan sampai saat ini asteroid masih menyimpan materi-materi disaat awal pembentukannya. Hal inilah yang akan diungkap Dawn agar kita bisa mengetahui bagaimana kondisi awal Tata Surya beserta proses awal pembentukannya.</p>
<p>Di dalam proses pembentukan Tata Surya, semakin jauh dari Matahari maka obyek yang terbentuk akan semakin dingin. Hal inilah yang menyebabkan planet terrestrial terbentuk di dekat Matahari dan obyek es terbentuk di daerah yang jauh atau daerah luar Tata Surya. Lebih jauh lagi, bukti-bukti menunjukan, setiap obyek memiliki karakteristik yang berbeda seharusnya memiliki jalur evolusi yang berbeda. Karena itu diharapkan dengan meneliti dua obyek yang sangat berbeda karakteristiknya, dapat mengungkap sebagian misteri pembentukan planet, termasuk proses yang mendominasinya.</p>
<p>Dawn, dalam misinya yang hampir satu windu ini akan menyelidiki Vesta dan Ceres dua asteroid yang sangat berbeda karakternya dan diyakini terbentuk lewat proses akresi di awal sejarah pembentukan Tata Surya. Diperkirakan proses hidrologi di Ceres masih aktif, dan memicu terjadinya musim dingin yang menutupi daerah kutub Ceres dengan es. Ceres juga diduga memiliki atmosfer tipis, yang membedakannya dari asteroid lainnya. Lain Ceres, lain pula Vesta. Vesta diduga memiliki batuan yang magnetnya lebih kuat dibanding di Mars. Hal ini memicu keingintahuan bagaimana dan kapan kondisi dinamik tersebut muncul. Permukaan Vesta lebih kering ditandai oleh pola permukannya yang beragam dari aliran lava padat sampai dengan kawah yang dalam dekat kutub selatannya.</p>
<p>Dari karakteristik keduanya, Vesta menunjukkan karakterstik yang mirip dengan planet dalam (inner planet), sementara Ceres menunjukkan kemiripannya dengan satelit es dari planet-planet luar (outer planet). Mempelajari kedua obyek ini diharapkan bisa memberi pengetahuan mengenai transisi planet batuan ke area luar Tata Surya yang dingin.</p>
<p>Secara umum, ada tiga hal yang menjadi tujuan Dawn yakni pertama, menangkap momen awal asal usul Tata Surya sehingga kita bisa memahami kondisi pembentukannya. Yang kedua, Dawn akan membantu menentukan cirri-ciri batuan yang membentuk planet terrestrial untuk membantu kita memahami pembentukan planet-planet batuan, Dan yang terakhir adalah mempelajari pembentukan dan evolusi dua obyek yang memiliki jejak evolusi berbeda, sehingga bisa dipahami apa yang mengontrol terjadinya evolusi. Dawn akan menyelesaikan misinya dalam jangka waktu 8 tahun, dimulai dari peluncurannya hari ini pada tangal 7 Juli 2007 sampai dengan Juli 2015. Dawn akan tiba di Vesta bulan Oktober 2011, dan tiba di Ceres bulan Februari 2015.<br />
Sama seperti misi lainnya, Dawn merupakan penjejak sebelum melangkah lebih jauh lagi dalam menyingkap setiap misteri dalam alam semesta.</p>
<p><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;"><br /> </span></strong></p>
<h2>Masa Depan Bumi Saat Matahari Berevolusi</h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><a title="Email This Post" href="http://langitselatan.com/2008/02/03/masa-depan-bumi-saat-matahari-berevolusi/email/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a><a title="Print This Post" href="http://langitselatan.com/2008/02/03/masa-depan-bumi-saat-matahari-berevolusi/print/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">By <a title="Posts by ivie" href="http://langitselatan.com/author/ivie/"><span style="color:windowtext;">ivie</span></a> • Feb 3rd, 2008 at 6:34 pm • Category: <a title="View all posts in Bumi" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/bumi/"><span style="color:windowtext;">Bumi</span></a>, <a title="View all posts in Matahari" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/matahari/"><span style="color:windowtext;">Matahari</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image019.jpg" alt="Universetoday" width="200" height="141" align="left" /><!--[endif]--><br />
Bintang Raksasa Merah. Impresi artis. Sumber : Universetoday</p>
<p class="MsoNormal">Perubahan iklim dan pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini menjadi salah satu efek yang sangat signifikan dalam perubahan kondisi Bumi selama beberapa dekade dan abad ke depan. Namun, bagaimana dengan nasib Bumi jika terjadi pemanasan bertahap saat Matahari menuju masa akhir hidupnya sebagai bintang katai putih? Akankah Bumi bertahan, ataukah masa tersebut akan menjadi masa akhir kehidupan Bumi?</p>
<p>Milyaran tahun lagi, Matahari akan mengembang menjadi bintang raksasa merah. Saat itu, ia akan membesar dan menelan orbit Bumi. Akankah Bumi ditelan oleh Matahari seperti halnya Venus dan Merkurius? Pertanyaan ini telah menjadi diskusi panjang di kalangan astronom. Akankah kehidupan di Bumi tetap ada saat matahari menjadi Katai Putih?</p>
<p>Berdasarkan perhitungan yang dilakukan K.-P. Schr¨oder dan Robert Connon Smith, ketika Matahari menjadi bintang raksasa merah, ekuatornya bahkan sudah melebihi jarak Mars. Dengan demikian, seluruh planet dalam di Tata Surya akan ditelan olehnya. Akan tiba saatnya ketika peningkatan fluks Matahari juga meningkatkan temperatur rata-rata di Bumi sampai pada level yang tidak memungkinkan mekanisme biologi dan mekanisme lainnya tahan terhadap kondisi tersebut.</p>
<p>Saat Matahari memasuki tahap akhir evolusi kehidupannya, ia akan mengalami kehilangan massa yang besar melalui angin bintang. Dan saat Matahari bertumbuh (membesar dalam ukuran), ia akan kehilangan massa sehingga planet-planet yang mengitarinya bergerak spiral keluar. Lagi-lagi pertanyaannya bagaimana dengan Bumi? Akankah Matahari yang sedang mengembang itu mengambil alih planet-planet yang bergerak spiral, atau akankah Bumi dan bahkan Venus bisa lolos dari cengkeramannya?</p>
<p>Perhitungan yang dilakukan oleh K.-P Schroder dan Robert Cannon Smith menunjukan, saat Matahari menjadi bintang raksasa merah di usianya yang ke 7,59 milyar tahun, ia akan mulai mengalami kehilangan massa. Matahari pada saat itu akan mengembang dan memiliki radius 256 kali radiusnya saat ini dan massanya akan tereduksi sampai 67% dari massanya sekarang. Saat mengembang, Matahari akan menyapu Tata Surya bagian dalam dengan sangat cepat, hanya dalam 5 juta tahun. Setelah itu ia akan langsung masuk pada tahap pembakaran helium yang juga akan berlangsung dengan sangat cepat, hanya sekitar 130 juta tahun. Matahari akan terus membesar melampaui orbit Merkurius dan kemudian Venus. Nah, pada saat Matahari akan mendekati Bumi, ia akan kehilangan massa 4.9 x 1020 ton setiap tahunnya (setara dengan 8% massa Bumi).</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image020.jpg" border="0" alt="Perjalanan evolusi Matahari sejak lahir sampai akhir masa hidupnya sebagai bintang katai putih. Saat ini Matahari berada di deret Utama  (Main Sequence)" width="500" height="156" /><!--[endif]--><br />
Perjalanan evolusi Matahari sejak lahir sampai akhir masa hidupnya sebagai bintang katai putih. Saat ini Matahari berada di deret Utama (Main Sequence)</p>
<p>Setelah mencapai tahap akhir sebagai raksasa merah, Matahari akan menghamburkan selubungnya dan inti Matahari akan menyusut menjadi objek seukuran Bumi yang mengandung setengah massa yang pernah dimiliki Matahari. Saat itu, Matahari sudah menjadi bintang katai putih. Bintang kompak ini pada awalnya sangat panas dengan temperatur lebih dari 100 ribu derajat namun tanpa energi nuklir, dan ia akan mendingin dengan berlalunya waktu seiring dengan sisa planet dan asteroid yang masih mengelilinginya.</p>
<p><strong>Zona Habitasi yang Baru</strong><br />
Saat ini Bumi berada di dalam zona habitasi / layak huni dalam Tata Surya. Zona layak huni atau habitasi merupakan area di dekat bintang di mana planet yang berada di situ memiliki air berbentuk cair di permukaannya dengan temperatur rata-rata yang mendukung adanya kehidupan. Dalam perhitungan yang dilakukan Schroder dan Smith, temperatur planet tersebut bisa menjadi sangat ekstrim dan tidak nyaman untuk kehidupan, namun syarat utama zona habitasinya adalah keberadaan air yang cair.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image022.jpg" alt="Jeff Bryant’s Space Art." width="220" height="175" align="right" /><!--[endif]--><br />
Terbitnya bintang raksasa merah. Impresi artis. Sumber: Jeff Bryant’s Space Art.</p>
<p class="MsoNormal">Tak dapat dipungkiri, saat Matahari jadi Raksasa Merah, zona habitasi akan lenyap dengan cepat. Saat Matahari melampaui orbit Bumi dalam beberapa juta tahun, ia akan menguapkan lautan di Bumi dan radiasi Matahari akan memusnahkan hidrogen dari air. Saat itu Bumi tidak lagi memiliki lautan. Tetapi, suatu saat nanti, ia akan mencair kembali. Nah saat Bumi tidak lagi berada dalam area habitasi, lantas bagaimana dengan kehidupan di dalamnya? Akankah mereka bertahan atau mungkin beradaptasi dengan kondisi yang baru tersebut? Atau itulah akhir dari perjalanan kehidupan di planet Bumi?</p>
<p>Yang menarik, meskipun Bumi tak lagi berada dalam zona habitasi, planet-planet lain di luar Bumi akan masuk dalam zona habitasi baru milik Matahari dan mereka akan berubah menjadi planet layak huni. Zona habitasi yang baru dari Matahari akan berada pada kisaran 49,4 SA &#8211; 71,4 SA. Ini berarti areanya akan meliputi juga area Sabuk Kuipert, dan dunia es yang ada disana saat ini akan meleleh. Dengan demikian objek-objek disekitar Pluto yang tadinya mengandung es sekarang justru memiliki air dalam bentuk cairan yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan. Bahkan bisa jadi Eris akan menumbuhkan kehidupan baru dan menjadi rumah yang baru bagi kehidupan.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Bumi?</strong><br />
Apakah ini akhir perjalanan planet Bumi? Ataukah Bumi akan selamat? Berdasarkan perhitungan Schroder dan Smith Bumi tidak akan bisa menyelamatkan diri. Bahkan meskipun Bumi memperluas orbitnya 50% dari orbit yang sekarang ia tetap tidak memiliki pluang untuk selamat. Matahari yang sedang mengembang akan menelan Bumi sebelum ia mencapai batas akhir masa sebagai raksasa merah. Setelah menelan Bumi, Matahari akan mengembang 0,25 SA lagi dan masih memiliki waktu 500 ribu tahun untuk terus bertumbuh.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image024.jpg" alt="Matahari yang menjadi raksasa merah akan mengisi langit seperti yang tampak dari bumi. Gambar ini menunjukan topografi Bumi yang sudah meleleh menjadi lava. Tampak siluet bulan dengan latar raksasa merah. Copyright William K. Hartmann" width="200" height="146" align="left" /><!--[endif]--><br />
Matahari yang menjadi raksasa merah akan mengisi langit seperti yang tampak dari bumi. Gambar ini menunjukan topografi Bumi yang sudah meleleh menjadi lava. Tampak siluet bulan dengan latar raksasa merah. Copyright William K. Hartmann</p>
<p class="MsoNormal">Saat Bumi ditelan, ia akan masuk ke dalam atmosfer Matahari. Pada saat itu Bumi akan mengalami tabrakan dengan partikel-partikel gas. Orbitnya akan menyusut dan ia akan bergerak spiral kedalam. Itulah akhir dari kisah perjalanan Bumi.</p>
<p>Sedikit berandai-andai, bagaimana menyelamatkan Bumi? Jika Bumi berada pada jarak 1.15 SA (saat ini 1 SA) maka ia akan dapat selamat dari fasa pengembangan Matahari tersebut. Nah bagaimana bisa membawa Bumi ke posisi itu?? Meskipun terlihat seperti kisah fiksi ilmiah, namun Schroder dan Smith menyarankan agar teknologi masa depan dapat mencari cara untuk menambah kecepatan Bumi agar bisa bergerak spiral keluar dari Matahari menuju titik selamat tersebut.</p>
<p>Yang menarik untuk dikaji adalah, umat manusia seringkali gemar berbicara tentang masa depan Bumi milyaran tahun ke depan, padahal di depan mata, kerusakan itu sudah mulai terjadi. Bumi saat ini sudah mengalami kerusakan awal akibat ulah manusia, dan hal ini akan terus terjadi. Bisa jadi akhir perjalanan Bumi bukan disebabkan oleh evolusi matahari, tapi oleh ulah manusia itu sendiri. Tapi bisa jadi juga manusia akan menemukan caranya sendiri untuk lolos dari situasi terburuk yang akan dihadapi.</p>
<p>Sumber : <a href="http://arxiv.org/abs/0801.4031" target="_blank"><span style="color:windowtext;">Arxiv : Distant future of the Sun and Earth revisited</span></a></p>
<p><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;"><br /> </span></strong></p>
<h2>Venus Express Menemukan Uap Air di Atmosfer Rendah Venus</h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><a title="Email This Post" href="http://langitselatan.com/2008/02/05/venus-express-menemukan-uap-air-di-atmosfer-rendah-venus/email/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a><a title="Print This Post" href="http://langitselatan.com/2008/02/05/venus-express-menemukan-uap-air-di-atmosfer-rendah-venus/print/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">By <a title="Posts by ivie" href="http://langitselatan.com/author/ivie/"><span style="color:windowtext;">ivie</span></a> • Feb 5th, 2008 at 9:54 am • Category: <a title="View all posts in Planet" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/planet/"><span style="color:windowtext;">Planet</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image026.jpg" alt="C. Carreau)" width="200" height="150" align="left" /><!--[endif]--><br />
Impresi artis yang menunjukan molekul-molekul yang ditemukan Venus Express pada atmosfer rendah di Venus. Kredit : ESA ( gambar oleh : C. Carreau)</p>
<p class="MsoNormal">Setelah hampir 2 tahun Venus Express milik ESA mengunjungi si bintang fajar, akhirnya ia pun berhasil memetakan atmosfer Venus untuk ketinggian yang rendah. Pemetaan ini penting untuk mendapatkan senyawa-senyawa kimia yang terkandung di sana sehingga dapat membantu para ilmuwan dalam memahami iklim global dan cuaca di Venus.</p>
<p>Pemetaan atmosfer Venus memang tidak mudah, terutama karena terhalang oleh awan tebal. Awan tersebut memblok cahaya tampak yang datang dari permukaan. Di bawah awan tersebut, temperatur pada ketinggian 35 km mencapai 200°C dan lebih dari 450 °C di permukaan, sehingga cahaya inframerah bisa melewati awan tersebut dan memberikan informasi komposisi senyawa kimia yang terkandung di sana.</p>
<p>Dalam pengamatan ini, Venus Express menggunakan spektrometer VIRTIS untuk memetakan atmosfer Venus. Sama seperti pada lapisan atmosfer Venus lainnya, pada lapisan yang cukup rendah ini pun, atmosfernya masih didominasi oleh karbondioksida yang menyebabkan terjadinya <em>runaway greehouse effect</em> di Venus. <em>Runaway greenhouse effect</em> merupakan efek rumah kaca akibat terperangkapnya karbondioksida di Venus. Selain karbondioksida, VIRTIS juga menangkap keberadaan karbonmonoksida, senyawa kimia yang justru sangat tidak biasa ditemukan pada ketinggian rendah seperti itu.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image028.jpg" alt="ESA" width="200" height="160" align="right" /><!--[endif]--><br />
Venus Express di Venus. Impresi artis. Kredit : ESA</p>
<p class="MsoNormal">Karbonmonoksida memang jarang ditemukan, karena itu penemuan ini bisa digunakan untuk menelusuri dan memantau pola sirkulasi di atmoser Venus. Karbonmonoksida akan mengikuti siklus angin global di seluruh planet &#8211; seperti meneteskan tinta ke air untuk mempelajari turbulensinya.</p>
<p>Lebih jauh lagi, pada resolusi yang lebih tinggi ditemukan juga sulfida karbonil dan uap air. Sejak tahun 1980-an molekul-molekul tersebut memang sudah diketahui keberadaannya di Venus, namun sebelum Venus Express tidak ada yang berhasil mengukur dan memetakannya. Keberadaan sulfida kabonil ini biasanya memiliki keterkaitan dengan karbonmonoksida. Jika diketahui ada kelimpahan sulfida karbonil, maka akan ada sedikit karbon monoksida demikian juga sebaliknya.</p>
<p>Hasilnya, model meteorologi menunjukan adanya keterkaitan antara kelimpahan molekul-molekul tersebut dengan sirkulasi skala besar di atmosfer. VIRTIS mendeteksi sirkulasi angin dalam skala besar yang dibangkitkan di ekuator dan kemudian mengalir menuju kutub utara dan selatan planet. Saat di kutub, angin tersebut akan kehilangan ketinggiannya dan bergerak berbalik ke tempatnya semula.</p>
<p>Keberadaan dan kelimpahan uap air di atmosfer Venus pada ketinggian rendah juga berhasil dideteksi dan dipetakan oleh Venus Express dengan resolusi yang tinggi. Hal ini memberikan sebuah jawaban atas perdebatan panjang para ilmuwan mengenai jumlah kandungan molekul tersebut di Venus.</p>
<p>Sumber : ESA</p>
<p><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;"><br /> </span></strong></p>
<h2>Peta Global Dampak Aktivitas Manusia pada Ekosistem Laut</h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><a title="Email This Post" href="http://langitselatan.com/2008/02/19/peta-global-dampak-aktivitas-manusia-pada-ekosistem-laut/email/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" border="0" alt="Email This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a><a title="Print This Post" href="http://langitselatan.com/2008/02/19/peta-global-dampak-aktivitas-manusia-pada-ekosistem-laut/print/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" border="0" alt="Print This Post" width="16" height="16" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">By <a title="Posts by nggieng" href="http://langitselatan.com/author/nggieng/"><span style="color:windowtext;">nggieng</span></a> • Feb 19th, 2008 at 7:45 am • Category: <a title="View all posts in Bumi" href="http://langitselatan.com/category/tata-surya/bumi/"><span style="color:windowtext;">Bumi</span></a></span></p>
<p>Pada masa-masa kini, laut-laut di Indonesia berada pada fase yang berbahaya. Ombak-ombak tinggi dan angin yang kencang menyebabkan kegiatan pelayaran dan kehidupan tepi laut terganggu, terutama bagi nelayan yang menggantungkan kehidupannya pada hasil laut. Apakah ini berkait dengan pemanasan global? Laporan dari IPCC menyatakan bahwa itu ada kaitannya. Tapi, hal itu tidak akan dibahas di sini, untuk saat ini.</p>
<p>Kehidupan manusia bergantung pada ekosistem laut, langsung atau tidak langsung. Makanan laut, garam, wisata laut hanyalah contoh dari kebergantungan manusia pada laut. Studi terkini menunjukkan bahwa kegiatan manusia pun memengaruhi laut, langsung maupun tidak langsung. Aktivitas daratan mendorong polutan dan sumber gizi menuju tepian pantai, mengakibatkan menghilangnya habitat, bahkan mengubah dan menghancurkan habitat alamiah. Aktivitas di laut pun mengambil sumber alam, menambah polusi, dan mengubah komposisi spesies.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image033.jpg" border="0" alt="Majalah Science" width="500" height="396" /><!--[endif]--><br />
Gambaran global dampak kumulatif aktivitas manusia pada 20 tipe ekosistem (A). Gambar dalam inset:Daerah yang dampaknya sangat tinggi pada Karibian Timur (B), Laut Utara (C), Lautan sekitar Jepang (D) dan di sekitar Indonesia dan Australia (E). Kredot gambar: Majalah Science</p>
<p>Aktivitas manusia sangat bervariasi dalam tingkat kegiatan dan dampaknya pada kondisi ekologi dan masyarakat, serta distribusinya sangat menyebar di berbagai wilayah laut. Oleh karena itu, studi tentang keterkaitan kegiatan manusia dan pengaruhnya pada laut sangat perlu dilakukan. Studi terkini dari <em>National Center for Ecological Analysis and Synthesis</em> (NCEAS) menunjukkan bahwa dampak aktivitas manusia pada lautan berlaku secara global (Gb.1), 41% berdampak menengah tinggi, dan 0.5% berdampak sangat tinggi. Tetapi, jumlah sekecil itu mencakup wilayah yang sangat luas (~2.2 juta km2). Daerah yang berdampak kecil, atau tidak berdampak merupakan daerah yang jauh dari aktivitas manusia, seperti pada daerah kutub.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image035.jpg" border="0" alt="Majalah Science" width="500" height="332" /><!--[endif]--><br />
Gambaran dampak yang terjadi pada lautan, garis abu-abu menyatakan daerah yang terkena dampak dalam kilometer persegi dan total nilai ancaman dalam garis hitam. Gambar A menunjukkan dampak yang ditimbulkan oleh manusia secara global, dan B untuk daerah sekitar pantai, dengan kedalaman &lt; 200m. Nilai dalam tiap garis diskalakan dalam jutaan. Kredit gambar: Majalah Science</p>
<p>Kebanyakan dampak yang muncul (Gb.2) merupakan akibat dari kegiatan manusia, baik darat maupun laut. Daerah yang mengalaminya adalah bagian utara dekat lautan Norwegia, sekitar laut Cina daerah tenggara, Karibia timur, tepi timur Amerika Utara, Laut Tengah, Teluk Persia, Laut Bering, dan perairan sekitar Srilangka. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah patahan dan pertemuan benua (<em>continental shelf and slope</em>). Gambar 2 menunjukkan bahwa dampak akibat perbuatan manusia berkaitan dengan perubahan iklim global yang distribusi secara luas, terutama pada ekosistem tepi laut. Yang pasti, terlihat bahwa dampak terbesar adalah meningkatnya temperatur air laut.Jika kemudian ekosistem laut menjadi berubah, dan tidak lagi memberikan manfaat bagi manusia, maka yang terjadi adalah bencana dari laut. Masih banyak studi yang harus dilakukan, untuk melihat setiap detail dari hubungan manusia dengan ekosistem laut. Tetapi ,sudah waktunya untuk memikirkan perlindungan pada alam lingkungan kita, dan melakukan pemberdayaan secara tepat sehingga bisa mengurangi dampak ekologi sekaligus mempertahankan kemanfaatan laut bagi manusia. Apalagi, Indonesia merupakan negara maritim.</p>
<p>Disadur dari laporan pada Majalah Sicence, 15 Februari 2008</p>
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bumikita.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bumikita.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bumikita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bumikita.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bumikita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bumikita.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bumikita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bumikita.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bumikita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bumikita.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bumikita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bumikita.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=11&subd=bumikita&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/all-about-global-warming/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/182346c55893a240f0fa2630e4f9247d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ncepzz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">global_warming.gif</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Laporan IPCC, 2007.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">GISS</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">GISS</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image009.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">NASA/Robert Simmon and Marit Jentoft-Nilsen. Foto satelit yang menunjukkan jumlah hari terjadinya proses pelelehan di tahun 2006. Warna biru gelap menunjukkan area yang memiliki hari pelelehan terbesar.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image011.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">NASA/Robert Simmon and Marit Jentoft-Nilsen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image013.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">NASA.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image014.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ESA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image015.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ESA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image017.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">UCLA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image019.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Universetoday</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image020.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Perjalanan evolusi Matahari sejak lahir sampai akhir masa hidupnya sebagai bintang katai putih. Saat ini Matahari berada di deret Utama  (Main Sequence)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image022.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Jeff Bryant’s Space Art.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image024.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Matahari yang menjadi raksasa merah akan mengisi langit seperti yang tampak dari bumi. Gambar ini menunjukan topografi Bumi yang sudah meleleh menjadi lava. Tampak siluet bulan dengan latar raksasa merah. Copyright William K. Hartmann</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image026.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">C. Carreau)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image028.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ESA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Email This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Print This Post</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image033.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Majalah Science</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/hp/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image035.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Majalah Science</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anomali Banjir di Jakarta</title>
		<link>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/anomali-banjir-di-jakarta/</link>
		<comments>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/anomali-banjir-di-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 16:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ncepzz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Global Warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bumikita.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Hadi S Alikodra
Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB
Iklim bumi makin kacau akibat makin pekatnya gas rumah kaca (karbondioksida) di atmosfer. Dampaknya, musim panas makin menyengat, musim hujan tak terkendali. Di Jakarta setelah musim panas yang lama dan menyengat habis, datang musim hujan dengan curah hujan amat tinggi. Dampaknya, Jakarta pun tenggelam awal Februari lalu. Korban tewas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=10&subd=bumikita&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hadi S Alikodra<br />
Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB</span></p>
<p>Iklim bumi makin kacau akibat makin pekatnya gas rumah kaca (karbondioksida) di atmosfer. Dampaknya, musim panas makin menyengat, musim hujan tak terkendali. Di Jakarta setelah musim panas yang lama dan menyengat habis, datang musim hujan dengan curah hujan amat tinggi. Dampaknya, Jakarta pun tenggelam awal Februari lalu. Korban tewas mencapai 40-an orang. Kerugian akibat terhentinya kegiatan ekonomi sepekan di Jakarta (31 Januari-6 Februari 07) itu mencapai Rp 4,1 triliun rupiah.</p>
<p>Sebelumnya, pekan kedua Januari 2007, Eropa diamuk badai. Belanda, Jerman, dan Prancis tak berdaya. Badai berkecapatan 120 km per jam yang disertai hujan deras itu, memorak-porandakan rumah dan menghempaskan pohon-pohon besar yang menghiasai kota-kota cantik di tiga negara Eropa itu. Badai tersebut mengakibatkan kekacauan lalu lintas di benua itu. Di Belanda, misalnya, lalu lintas mengalami kemacetan sepanjang 500 km. Di Jerman dan Prancis, ratusan mobil tertimpa pepohonan. Kereta api yang menjadi sarana transportasi utama antarkota di Eropa pun tak bisa beroperasi karena takut terhempas badai. Semua aktivitas kehidupan pun nyaris lumpuh.</p>
<p>Korban tewas akibat amukan badai itu mencapai 27 orang dan ratusan orang lainnya cedera. Kerugian akibat bencana badai itu mencapai miliaran dolar AS. Konon, badai yang menghantam Eropa pekan lalu itu adalah badai terbesar yang pernah muncul di benua tua tersebut. Badai di Eropa itu, seakan melengkapi &#8216;perjalanan badai&#8217; dari Samudera Pasifik ke Atlantik.</p>
<p>Sebelumnya dalam perjalanannya di Pasifik badai tersebut telah menghantam sejumlah negara seperti Filipina, Cina, Taiwan, Korea, Malaysia, dan Jepang. Korban tewas mencapai ribuan orang. Ratusan ribu rumah roboh dan tenggelam karena besarnya ombak laut yang tergiring bersama badai itu. Di Indonesia, badai telah menenggelamkan kapal Senopati Nusantara di Laut Jawa akhir Desember lalu dan menewaskan 200 orang lebih penumpangnya. Badai ini juga menghancurkan pesawat Adam Air di lepas pantai Sulawesi Barat dan hingga kini belum seorang pun penumpangnya yang berjumlah sekitar 100 orang ditemukan hidup.</p>
<p>Global warming<br />
Kenapa ancaman banjir dan badai makin ke sini makin sering terjadi? Jawabnya klasik memang: yaitu akibat fenomena global warming (memanasnya suhu bumi) yang makin besar. Pemanasan suhu bumi yang makin besar ini linier dengan makin besarnya konsentrasi gas rumah kaca (karbon dioksida atau CO2) di atmosfer.</p>
<p>Fenomena pemanasan global yang sempat menjadi isu yang ramai diperdebatkan kebenarannya oleh para pakar klimatologi, kini tampaknya sulit dibantah kebenarannya. Bulan Juli tahun lalu, misalnya, sejumlah turis di Swiss menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana bongkahan es sebesar Empire State Building (sebuah gedung perkantoran dan pusat perdagangan amat besar berlantai 102 di New York AS) jatuh dari sisi gunung Eiger. Ribuan turis menyaksikan pemandangan alam yang indah tapi mencemaskan itu.</p>
<p>Dua hari setelah itu, seorang pakar geologi dari Zurich University, Swiss, melaporkan bahwa area yang tertutup es di Pengunungan Alpine telah menyusut 50 persen dalam 150 tahun terakhir. Mereka juga meramalkan jika temperatur bumi naik lima derajat fahrenheit, 80 persen glacier (timbunan es yang bergerak) di puncak pegunungan Alpine akan habis pada tahun 2100. Hilangnya glacier tersebut berakibat fatal sebab ia adalah sumber mata air untuk sungai-sungai besar di Eropa. Tak terbayangkan seandainya sumber mata air itu habis, Eropa akan jadi apa?</p>
<p>Global warming yang makin lama makin dahsyat itu, terpantau juga di Greenland &#8211;sebuah pulau yang tertutup es sepanjang tahun di Kutub Utara&#8211; pada tahun 2006. Berdasarkan sebuah studi dari tahun 2003-2006, tercatat setiap tahun telah terjadi pencairan es sebesar 100 miliar ton. Kecepatan pencairan es di Greenland tersebut saat ini (2007) tiga kali lebih cepat ketimbang lima tahun sebelumnya. Barangkali, faktor pencairan es di Kutub Utara inilah yang punya kontribusi besar terhadaop kenaikan permukaan air laut belakangan ini.</p>
<p>Lantas, haruskah kita cemas menghadapi fenomena ini? Michael Oppenheimer dari Princeton University, AS, menyatakan bahwa fenomena tersebut jelas mencemaskan kita semua. Ini karena, &#8220;Anda tidak akan dapat mengembalikan es yang telah mencair tadi ke dalam bentuk semula.&#8221; Kenaikan temperatur dan mencairnya es di Greenland adalah sebuah bukti tak terbantah bahwa bumi sedang menderita kenaikan suhu yang amat besar.</p>
<p>Kondisi ini bila dibiarkan akan mengubah sistem atmosfer bumi sedemikian rupa sehingga suhu udara bisa menyebabkan kenaikan permukaan air laut setinggi 13-20 inchi dibandingkan kondisi saat ini. Bila ini terjadi, ungkap Michael, maka inilah awal dari bencana global. Sejumlah negara kecil di Pasifik dan Atlantik akan tenggelam. Ribuan kota pantai di Asia, Eropa, dan Amerika akan terendam air laut. Kondisi ini, besar kemungkinan akan bersifat irreversible &#8211;tak akan bisa kembali seperti semula. Kematian peradaban pesisir di berbagai benua yang saat ini menjadi khasanah kebudayan yang amat menarik di dunia tidak akan terelakkan.</p>
<p>Seperti kita ketahui, salah satu penyebab global warming adalah kadar gas karbon dikosida di atmosfer yang berlebihan. Sumber terbesar gas ini berasal dari pembakaran fossil fuel seperti minyak tanah, premium, solar, batu bara, dan lain-lain. Semua itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan energi manusia. Dengan makin banyaknya penduduk dunia dari tahun ke tahun, otomatis kebutuhan energi pun makin bertambah. Saat ini, kebutuhan energi tersebut linier dengan konsumsi fossil fuel tadi.</p>
<p>Jika demikian persoalannya, adakah pemecahan? Jelas ada! Pertama, mengurangi pemakaian fossil fuel sebanyak-banyaknya. Misalnya, mengganti sumber energi dari fossil fuel dengan sumber energi matahari, panas bumi, angin, gelombang laut, dan energi nuklir. Jika sumber-sumber energi tersebut dimanfaatkan maksimal, niscaya udara makin bersih dan sedikit gas karbon dioksida. Ini akan mengakibatkan suhu bumi makin sejuk. Di negeri tropis, misalnya, sumber energi matahari dan angin jumlahnya tidak terbatas. Persoalannya, sejauh mana komitmen pihak-pihak paling otoritatif untuk melakukan reformasi bidang sumber daya energi tersebut?</p>
<p>Kedua adalah penghijauan kembali lahan-lahan di permukaan bumi, termasuk penggalakan reboisasi hutan. Makin tipisnya jumlah pepohonan di permukaan bumi, berakibat makin sedikitnya converter agent yang bisa mengubah gas karbon dioksida menjadi gas oksigen yang amat dibutuhkan makhluk hidup. Penghijauan &#8211;termasuk di wilayah tandus&#8211; seharusnya menjadi proyek global untuk mengantisipasi datangnya global warming dengan segala implikasinya. Jika semua manusia di seluruh bumi bersatu untuk mengatasi fenomena global warming tersebut, niscaya ancaman bahaya mengerikan dapat dihindarkan. Persoalannya, maukah setiap negara dan bangsa bekerja sama untuk menyelamatkan bumi?</p>
<p>Ikhtisar<br />
- Banjir di Jakarta, termasuk menjadi bagian dari kekacauan iklim yang disebabkan global warming (pemanasan global).<br />
- Pemanasan telah menyebabkan miliaran ton es di Kutub Utara meleleh dan meningkatkan muka air laut.<br />
- Gas karbon dioksida yang kian pekat di atmosfer menjadi penyebab utamanya.<br />
- Perlu komitmen seluruh bangsa di dunia untuk segera membersihkan udara dari karbon dioksida, supaya pemanasan global bisa ditekan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bumikita.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bumikita.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bumikita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bumikita.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bumikita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bumikita.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bumikita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bumikita.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bumikita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bumikita.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bumikita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bumikita.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=10&subd=bumikita&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/anomali-banjir-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/182346c55893a240f0fa2630e4f9247d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ncepzz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GLOBAL WARMING &#8211; termasuk tanda-tanda kiamat, kah?</title>
		<link>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/global-warming-termasuk-tanda-tanda-kiamat-kah/</link>
		<comments>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/global-warming-termasuk-tanda-tanda-kiamat-kah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 16:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ncepzz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Global Warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bumikita.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[GLOBAL WARMING &#8211; termasuk tanda-tanda kiamat, kah? 


Global warming atau pemanasan global merupakan persoalan yang telah lama muncul. Keadaan itu dibuktikan dengan semakin panasnya suhu bumi dan polusi udara dimana-mana. Hal tersebut akan mempercepat kerusakan bumi, karena semakin lama kadar karbondioksida yang ada di bumi semakin meningkat. Adanya fenomena ini memunculkan banyak penelitian tentang Teknologi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=9&subd=bumikita&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;color:black;">GLOBAL WARMING &#8211; termasuk tanda-tanda kiamat, kah?</span></strong><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"></p>
<hr size="1" /></span></div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Global warming atau pemanasan global merupakan persoalan yang telah lama muncul. Keadaan itu dibuktikan dengan semakin panasnya suhu bumi dan polusi udara dimana-mana. Hal tersebut akan mempercepat kerusakan bumi, karena semakin lama kadar karbondioksida yang ada di bumi semakin meningkat. Adanya fenomena ini memunculkan banyak penelitian tentang Teknologi Energi yang berkelanjutan, dan solusi-solusi yang harus dilakukan dalam menghadapi persoalan tersebut. Hal itu mendasari adanya kerjasama mengenai Teknologi Energi Berkelanjutan antara Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Eindhoven University of Technology, Belanda.<br />
J.P.Patrick.Van.Schijndel sebagai wakil dari Belanda, mengadakan kunjungan selama dua hari sejak 24-25 Januari di UMY. Kunjungan tersebut telah memunculkan beberapa agenda kerjasama antara lain kesepakatan mengenai pengembangan materi dan kegiatan tentang Teknologi Energi Berkelanjutan, serta kerjasama untuk mempromosikan hal tersebut hingga ke beberapa wilayah di Indonesia.<br />
Dalam kesempatan tersebut Patrick mengatakan bahwa, kerjasama ini merupakan kelanjutan dari symposium mengenai ‘Teknologi Energi Berkelanjutan’ yang telah diadakan di Bogor pada Juli 2006. Kerjasama Indonesia-Belanda yang bernama “Dutch-Indonesia Energy Working Group” ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak dalam menghadapi pemanasan global dan pemanfaatan Teknologi Energi.<br />
Kunjungan hari kedua tamu dari Belanda tersebut diisi dengan diskusi dan pemutaran film. Diskusi mengenai Global Warming dan Sustainable Development tersebut diikuti oleh seluruh Dosen Fakultas teknik UMY. Film yang diputar selama kurang lebih satu jam, merupakan film mengenai Global Warming dan film documenter tentang perubahan alam yang terjadi di beberapa wilayah di dunia.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;"><br />
</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Keanegaragaman Hayati Diambang Kepunahan</span></strong></p>
<p>Pemanasan global dapat menyebabkan kepunahan dari sebagian besar ekosistem dunia yang amat berharga. Bahkan hidupan liar yang ada di tempat-tempat konservasipun tidak bisa menghindari ancaman besar ini.</p>
<p>Beruang kutub semakin kehilangan habitatnya. Di Antartika, dimana suhu rata-rata telah meningkat sekita 4.5 derajat Farenheit dalam 50 tahun terakhir, gumpalan es sebesar pulau Rhode seberat 500 milyar ton terpisah dari es Larsen-B dan jatuh ke laut.</p>
<p>Saat ini terumbu karang dunia dalam kondisi yang memprihatinkan. Terumbu karang sangat sensitif terhadap panas. Kenaikan 1oC pada temperatur laut dapat mengakibatkan pemutihan pada terumbu karang dan pada akhirnya akan mati. Pemutihan karang yang paling parah terjadi pada 1998.</p>
<p>Dalam laporan penelitian WWF, Habitats at Risk: Global Warming and Species Loss in Terrestrial Ecosystems, ditemukan bahwa dengan beberapa asumsi mengenai pemanasan global di masa depan dan dampaknya terhadap beberapa tipe vegetasi utama, kepunahan spesies akan terjadi di kebanyakan ekoregion signifikan di bumi.</p>
<p>Laporan tersebut meneliti dampak perubahan iklim pada ekosistem teresterial yang diidentifikasikan WWF sebagai bagian dari Global 200 &#8211; tempat-tempat dimana terdapat keanekaragaman hayati bumi yang paling unik dan kaya. Apabila tingkat konsentrasi CO2 di atmosfer dalam 100 tahun mendatang dikalikan dua dari sekarang &#8211; jumlah yang sesungguhnya lebih kecil dari perkiraan para ahli iklim, dampak-dampak berikut diperkirakan akan terjadi:<br />
-Lebih dari 80 persen dari ekoregion yang diteliti akan menderita kepunahan tumbuhan dan binatang sebagai akibat pemanasan global.<br />
-Beberapa dari ekosistem alami yang paling kaya akan kehilangan lebih dari 70 persen dari habitatnya, dimana habitat tersebut adalah tempat hidup dari tumbuhan dan binatang di dalamnya.<br />
-Banyak habitat yang akan berubah sepuluh kali lebih cepat daripada seharusnya, yang menyebabkan kepunahan species yang tidak dapat bermigrasi atau beradaptasi dengan perubahan tersebut</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bumikita.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bumikita.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bumikita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bumikita.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bumikita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bumikita.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bumikita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bumikita.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bumikita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bumikita.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bumikita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bumikita.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bumikita.wordpress.com&blog=3582997&post=9&subd=bumikita&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bumikita.wordpress.com/2008/04/26/global-warming-termasuk-tanda-tanda-kiamat-kah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/182346c55893a240f0fa2630e4f9247d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ncepzz</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>